Probolinggo, SGB-news.id — Proyek pembangunan trotoar di Jalan Soekarno-Hatta kembali memicu sorotan setelah terpantau adanya pemasangan pita taktil warna kuning yang sejajar langsung dengan tiang besi. Kondisi ini dinilai berpotensi membahayakan pejalan kaki, khususnya penyandang tunanetra yang bergantung pada jalur pemandu tersebut.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Secara fungsi, pita taktil seharusnya menjadi panduan aman bagi tunanetra untuk berjalan tanpa hambatan. Namun, temuan di lapangan menunjukkan bahwa garis pemandu justru mengarah tepat ke tiang besi yang berdiri di atas trotoar. Pola pemasangan seperti ini bukan hanya tidak sesuai kaidah teknis, tetapi juga mencerminkan rendahnya kualitas pengawasan dalam proyek infrastruktur perkotaan.
Dierel, anggota Aliansi Madura Indonesia, angkat bicara menanggapi temuan tersebut. Ia menegaskan bahwa garis kuning taktil bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan fasilitas vital yang seharusnya dirancang dengan memperhatikan keselamatan seluruh warga.
“Garis kuning itu difungsikan untuk memikirkan rakyat, bukan sekadar hiasan. Kalau pembuatannya justru mengarahkan tunanetra menabrak tiang, berarti ada yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, kalau seperti itu lalu yang buta siapa” ujarnya dengan nada tegas.
Ia menilai bahwa proyek seperti ini seharusnya diawasi secara ketat oleh pihak terkait, bukan hanya berorientasi pada penyelesaian fisik. Menurutnya, setiap fasilitas umum wajib memenuhi standar aksesibilitas agar tidak menimbulkan risiko baru bagi masyarakat.
Sejumlah warga sekitar juga menyayangkan penempatan elemen trotoar yang dinilai asal-asalan. Mereka berharap pemerintah segera melakukan evaluasi dan perbaikan sebelum fasilitas tersebut benar-benar digunakan oleh publik.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari instansi pelaksana proyek. Namun, temuan ini kembali membuka persoalan klasik: apakah pembangunan infrastruktur benar-benar memperhatikan fungsi dan keselamatan pengguna, atau hanya sekadar memenuhi target serapan anggaran.
Masyarakat menunggu langkah konkret pemerintah untuk memastikan bahwa trotoar yang dibangun bukan hanya tampak rapi secara visual, tetapi juga benar-benar ramah dan aman bagi semua pejalan kaki, termasuk penyandang disabilitas.
Tim-Redaksi
