SGB-news°Lumajang, fenomena kasat mata pelanggaran yang dipertontonkan tanpa canggung dan merasa yakin tidak akan tersentuh hukum. Sebuah pemandangan kegiatan rutin para mafia BBM yang menggunakan mobil modifikasi berisi pertalite membongkar (menyedot) dilokasi bekas cafe dipinggir jalan raya Sentul kecamatan sumbersuko kabupaten Lumajang. Jumat (19/12/25).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Menurut pengakuan salah satu pelaku tengkulak yang tidak bersedia disebutkan namanya kepada awak media. Kegiatan teman-temannya berjalan lancar karena sudah setor jatah preman bulanan kepada oknum aparat, per orang sebesar 20.000/hari. Dan setiap pembelian BBM per 100.000 dilebihkan 1.000 untuk petugas pom bensin.
“Para tengkulak yang menggunakan mobil modifikasi urunan 20.000/hari untuk memberikan jatah preman kepada oknum aparat.Dan setiap pembelian 100.000 BBM harus dilebihkan 1000 untuk petugas pom bensin.” Ungkapnya.
Hal ini sangat merusak pemandangan setiap orang yang mau mengisi BBM dipom bensin Sentul pasti berebut antrian dengan para tengkulak.Mereka terkoordinir dan seolah-olah menganggap pom bensin desa Sentul adalah kekuasaan mereka. Yang sangat disayangkan adalah bentuk pembiaran oleh aparat penegak hukum, pemerintah desa semua tutup mata bahkan seperti memberi ruang kebebasan kepada mereka.
Salah satu masyarakat desa Sentul yang juga aktivis anti korupsi dan penyalahgunaan kewenangan Dendik Zeldianto berkomentar. Kepada awak media dirinya mengatakan sangat menyayangkan terhadap semua yang terjadi didesanya terkait ulah para tengkulak BBM. Yang dirasa sangat mencolok dan seolah-olah kebal hukum tersebut.
“Saya paham mereka bekerja untuk keluarga,seharusnya mereka juga sadar bahwa yang mereka lakukan tersebut melawan hukum. Pembelian BBM dengan menggunakan mobil modifikasi ataupun satu unit beberapa kali masuk pom bensin. Tapi mereka sudah setor jatah preman kepada oknum aparat jadi merasa aman dan nyantai saja.” Tegasnya
Dendik menambahkan,bahwa pelaku tengkulak tersebut mayoritas orang luar desa Sentul. Perbandingannya adalah 70 % tengkulak dari luar Sentul 30 % asli warga lokal.Inilah yang sangat disayangkan,dirinya sebagai warga desa Sentul akan mengungkap hal ini kepada APH agar ditindaklanjuti.
“Mayoritas tengkulak dari luar desa Sentul,saya sebagai warga setempat sangat prihatin dengan hal itu.peluang kerja untuk warga lokal justru dikuasai oleh orang luar.Akan saya ungkap biar dilakukan penertiban kembali, kasihan warga lokal seperti tertindas didesa sendiri.” Pungkasnya.
Tim-Redaksi