SGB-NEWS.id | Probolinggo, Jawa Timur – Sebelum dikenal sebagai kota pelabuhan dan gerbang wisata Bromo, Probolinggo hanyalah sebuah pedukuhan kecil di muara sungai. Namanya Banger. Dari wilayah sunyi itulah sebuah kota lahir—bukan dari kemewahan, melainkan dari konflik, perubahan kekuasaan, dan keputusan berani mengganti identitas.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Artikel ini adalah fiksi sejarah yang dirangkai dari kerangka fakta, dikembangkan menjadi narasi untuk menghidupkan kembali perjalanan awal Probolinggo.
Dari Sungai Kecil ke Jalur Takdir
Di tepi Kali Banger, rumah-rumah bambu berdiri mengikuti lekuk sungai. Nelayan menggantungkan hidup pada ombak, petani pada musim. Di masa itu, Banger bukan pusat kekuasaan. Ia hanya persinggahan.
Namun letaknya adalah masalah sekaligus anugerah.
Wilayah ini berada di jalur pesisir utara Jawa Timur—lintasan perdagangan, pelayaran, dan pergerakan militer. Ketika Majapahit mulai melemah, daerah-daerah timur Jawa berubah menjadi medan perebutan pengaruh. Banger ikut terseret.
Perahu bukan lagi hanya membawa ikan, tetapi juga kabar perang. Sungai bukan lagi hanya jalur air, tetapi jalur logistik.
Banger belajar satu hal sejak awal: tempat strategis tidak pernah benar-benar netral.
Ketika Darah dan Garam Bertemu
Dalam fiksi ini, generasi pertama orang Banger hidup di antara sisa-sisa kejayaan Majapahit dan konflik internal yang memecah Jawa. Pesisir utara menjadi saksi lalu lalang pasukan, pembakaran lumbung, dan pengungsian.
Kota belum lahir. Tetapi luka kolektif sudah terbentuk.
Warga menyadari, mereka tidak bisa selamanya hanya menjadi penonton sejarah. Mereka terlalu dekat dengan arus besar kekuasaan untuk sekadar bersembunyi.
Kompeni Datang, Wajah Kekuasaan Berubah
Abad berikutnya, layar-layar asing muncul di cakrawala. Bukan kerajaan. Bukan adipati. Melainkan kompeni dagang.
VOC masuk bukan dengan silsilah, tetapi dengan kontrak. Bukan dengan budaya, tetapi dengan senjata api dan pajak. Penguasa lokal diangkat. Hasil bumi dicatat. Pelabuhan ditata bukan untuk rakyat, tetapi untuk pengiriman.
Banger mulai tumbuh. Tapi pertumbuhan itu tidak sepenuhnya milik warganya.
Dari pedukuhan, ia berubah menjadi simpul ekonomi. Dari kampung, ia menjadi wilayah yang diperebutkan.
Kanjeng Djimat dan Lahirnya Nama Probolinggo
Dalam versi fiksi ini, titik balik hadir bersama seorang pemimpin lokal yang dikenal rakyat sebagai Kanjeng Djimat.
Ia tidak hanya mengurus setoran dan administrasi, tetapi juga wajah kota. Ia memperbaiki tata permukiman, membangun pusat ibadah, menata pasar, dan mulai menyebut wilayah ini sebagai sesuatu yang lebih besar dari Banger.
Suatu malam—dalam cerita yang berkembang di masyarakat—langit pesisir membelah oleh cahaya panjang. Fenomena itu ditafsirkan bukan sebagai ancaman, melainkan pertanda.
Dari situlah muncul nama baru:
Probolinggo — probo (cahaya), linggo (tanda).
Nama itu menjadi simbol: bahwa wilayah ini tidak lagi sekadar tempat singgah, tetapi penanda zaman.
Sejak saat itu, Banger mati sebagai desa. Probolinggo lahir sebagai kota.
Menuju Kota, Menuju Kesadaran
Tahun-tahun berikutnya membawa Probolinggo memasuki era kota kolonial, lalu kota republik. Status berubah. Peta diperbarui. Pemerintahan berganti.
Namun dalam fiksi ini, satu hal tetap:
Probolinggo tidak lahir dari ketenangan. Ia lahir dari pergeseran, konflik, dan kesadaran bahwa identitas harus diperjuangkan.
Dari sungai kecil di pesisir, tumbuh kota yang hari ini menjadi simpul perdagangan, pendidikan, pergerakan sosial, dan kontrol publik.
Refleksi
Cerita berdirinya Probolinggo—baik dalam sejarah maupun fiksi—selalu bertemu pada satu benang merah:
wilayah kecil yang dipaksa sejarah untuk menjadi besar.
Dan kota yang lahir dari tekanan, biasanya hanya punya dua pilihan:
menjadi alat, atau menjadi kesadaran.
Probolinggo memilih berdiri.
—
Catatan Redaksi:
Tulisan ini adalah fiksi sejarah, disusun dari kerangka peristiwa dan tokoh nyata, lalu dikembangkan secara naratif untuk kepentingan literasi dan budaya.
Penulis: Shinta Rahmawati
