Sgb.news.id -Kota Probolinggo,– Direktur Perseroda Bahari Tanjung Tembaga (BTT) memaparkan secara terbuka arah bisnis, strategi operasional, hingga prinsip kerja perusahaan saat menghadiri rapat bersama DPRD Kota Probolinggo. Penjelasan tersebut disampaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban awal sekaligus upaya membangun kepercayaan publik dan legislatif.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dalam pemaparannya, Direktur Perseroda BTT menegaskan bahwa perusahaan sejak awal tidak ingin menjadi “beban waktu” maupun proyek simbolik daerah. BTT, menurutnya, ditargetkan menjadi entitas bisnis yang produktif dan berkontribusi langsung terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kami ingin menjadi mesin uang, bukan mesin waktu. Kami bekerja keras di awal agar bisa membuktikan apa yang akan kami berikan untuk Kota Probolinggo. Jargon kami jelas: dari Probolinggo, untuk Probolinggo,” ujarnya di hadapan anggota dewan.
Direktur menekankan prinsip utama pengelolaan perusahaan adalah tidak boleh rugi sejak langkah pertama. Menurutnya, kesan awal dalam bisnis sangat menentukan keberlanjutan usaha ke depan.
“Kalau kesan pertama saja sudah rugi, ke depan akan berat. Tapi kalau dari awal tidak rugi, insyaallah ke sananya akan kuat, apalagi kalau modal bertambah,” jelasnya.
Terkait bidang usaha, Direktur menjelaskan bahwa Perseroda BTT beroperasi sesuai ketentuan akta pendirian dan klasifikasi usaha (KBLI). Hal tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh aktivitas bisnis patuh regulasi dan tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
Ia menyebut, fokus awal BTT berada pada tiga sektor utama, yakni jasa transportasi logistik pelabuhan menggunakan truk tronton, suplai air bersih non-air minum untuk kawasan pelabuhan, serta pengembangan usaha pendukung seperti pergudangan dan cold storage yang direncanakan masuk dalam rencana kerja tahun berikutnya.
Untuk pengelolaan air bersih, Direktur menegaskan bahwa Perseroda tidak akan melampaui kewenangannya. BTT tetap akan membeli air dari Perumda, lalu bertindak sebagai penyuplai ke kawasan pelabuhan guna meringankan beban operasional Perumda.
“Untuk sekarang kami tidak melompati kewenangan. Air tetap kami beli dari Perumda, kami yang menyuplai ke pelabuhan,” tegasnya.
Direktur juga menyinggung rencana jangka panjang, termasuk peluang pengelolaan fasilitas pengolahan air seperti Water Treatment Plant (WTP), namun hal tersebut baru memungkinkan apabila dukungan permodalan memadai.
Mengenai keterbatasan anggaran, ia mengakui bahwa modal awal tergolong “nanggung”, namun diyakini cukup untuk memulai operasional. Strategi efisiensi diterapkan dengan pengadaan armada truk secara bertahap agar operasional tetap berjalan tanpa membebani keuangan perusahaan.
“Kami mulai dari empat unit dulu. Dari hitungan kami, itu sudah cukup untuk menopang operasional sampai mesin bisnis berjalan,” jelasnya.
Direktur menargetkan Perseroda BTT mulai beroperasi penuh pada akhir Maret 2026 atau setelah Idulfitri, dengan fokus utama pada layanan trucking logistik keluar-masuk Pelabuhan Kota Probolinggo.
Menutup penjelasannya, Direktur menegaskan komitmen untuk bersinergi dengan DPRD, terbuka terhadap pengawasan, dan konsisten antara pernyataan serta pelaksanaan di lapangan.
“Kami tidak ingin lain di mulut, lain di perbuatan. Apa yang kami sampaikan hari ini, itu yang akan kami kerjakan,” pungkasnya.
RDP tersebut menjadi bagian dari fungsi pengawasan DPRD sekaligus tolok ukur awal bagi Perseroda Bahari Tanjung Tembaga untuk membuktikan bahwa BUMD ini tidak hanya siap berdiri, tetapi juga siap bekerja.
Diki