Probolinggo – SGB-News.id,-
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Inisiatif Nyata dari Desa di Tengah Tantangan Pangan
Ketahanan pangan bukan lagi jargon seminar. Di Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, konsep itu dijalankan secara konkret melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Di saat banyak desa masih sibuk rapat tanpa hasil, Kerpangan memilih bekerja.
Pengelolaan peternakan ayam petelur menjadi salah satu langkah strategis BUMDes Kerpangan dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus memperkuat ekonomi desa. Produksi telur yang berkelanjutan bukan hanya menopang kebutuhan lokal, tetapi juga membuka peluang pendapatan desa secara mandiri.
Model ini sederhana tapi efektif: pangan diproduksi di desa, dikelola desa, dan hasilnya kembali ke desa. Tidak muluk-muluk, tapi tepat sasaran.
Peran PJ Kepala Desa: Mengawal, Bukan Sekadar Mengawasi
PJ Kepala Desa Kerpangan, Nanang Khosim, menegaskan bahwa ketahanan pangan harus dibangun dari bawah, bukan menunggu instruksi dari atas. Pemerintah desa, menurutnya, berkewajiban memastikan BUMDes tidak hanya hidup di atas kertas, tetapi benar-benar berjalan dan memberi manfaat.
BUMDes Sebagai Alat, Bukan Pajangan Administratif
Nanang Khosim mendorong agar BUMDes dikelola secara profesional dan transparan. Ia memahami betul bahwa kepercayaan masyarakat adalah modal utama. Tanpa itu, BUMDes hanya akan menjadi proyek musiman—ramai di awal, sepi di akhir.
Pendekatan yang dilakukan adalah penguatan manajemen, pemanfaatan potensi lokal, serta keterlibatan warga. Hasilnya mulai terlihat: produksi berjalan, lapangan kerja tercipta, dan desa punya daya tahan saat harga pangan bergejolak.
Desa Mandiri Pangan, Desa Berdaulat Ekonomi
Langkah Desa Kerpangan membuktikan satu hal: ketahanan pangan tidak harus menunggu program besar atau anggaran fantastis. Yang dibutuhkan adalah kemauan, pengelolaan yang jujur, dan keberanian mengambil keputusan.
Contoh yang Layak Ditiru Desa Lain
Apa yang dilakukan BUMDes Kerpangan bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Probolinggo. Ketika desa mampu mengelola pangan sendiri, ketergantungan berkurang, ekonomi bergerak, dan kesejahteraan warga bukan sekadar janji kampanye.
Singkatnya: desa yang bekerja akan bertahan. Desa yang hanya wacana, ya tertinggal.
Diki