SGB-News.id
PROBOLINGGO | SGB-News.id – Pemerintah Kota Probolinggo terus menegaskan komitmennya membangun pemerintahan yang adaptif dan responsif melalui penguatan inovasi daerah. Kamis (5/2), Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah Kota Probolinggo melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) inovasi daerah tahun 2025 yang digelar di Command Center Kantor Wali Kota Probolinggo.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus pemacu semangat bagi seluruh perangkat daerah. Pasalnya, tercatat sebanyak 142 inovasi telah dikirimkan Pemerintah Kota Probolinggo melalui aplikasi Indeks Inovasi Daerah (IID) milik Kementerian Dalam Negeri. Angka tersebut menunjukkan bahwa inovasi bukan sekadar jargon, melainkan mulai membudaya dalam kerja-kerja birokrasi.
Monev ini dihadiri langsung Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin, jajaran pimpinan perangkat daerah, serta para pejabat struktural dan fungsional. Kehadiran pimpinan daerah menjadi sinyal kuat bahwa inovasi adalah agenda strategis, bukan pekerjaan sampingan.
Dalam paparannya, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Probolinggo yang juga menjabat Kepala BAPPERIDA, Rey Suwigtyo, memaparkan komposisi sektor inovasi yang berkembang di lingkungan Pemkot Probolinggo. Ia menjelaskan bahwa inovasi daerah saat ini masih didominasi oleh sektor pelayanan publik, dengan total 99 inovasi. Disusul sektor tata kelola pemerintahan sebanyak 19 inovasi, serta kategori inovasi daerah lainnya sebanyak 27 inovasi.
“Dominasi inovasi pelayanan publik menunjukkan bahwa orientasi kita semakin jelas, yaitu bagaimana negara hadir lebih dekat dan lebih cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya dari sisi sektor, Rey juga membeberkan data inisiator inovasi. Mayoritas inovasi lahir dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan 69 inovasi, disusul perangkat daerah sebanyak 64 inovasi. Menariknya, inovasi yang diinisiasi langsung oleh masyarakat juga mulai tumbuh dengan 10 inovasi, sementara kepala daerah tercatat menginisiasi 2 inovasi.
Komposisi ini menegaskan bahwa inovasi tidak lagi bersifat top-down semata. ASN di level teknis mulai berani berpikir kreatif, sementara masyarakat perlahan dilibatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.
Wali Kota Probolinggo dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa inovasi harus berdampak nyata, bukan hanya berhenti pada administrasi pelaporan. Menurutnya, setiap inovasi harus menjawab persoalan riil di lapangan, meningkatkan kualitas layanan, dan mempermudah urusan masyarakat.
“Inovasi itu bukan lomba ide, tapi kerja nyata. Kalau masyarakat belum merasakan manfaatnya, berarti kita belum selesai,” tegasnya.
Melalui monev ini, BAPPERIDA diharapkan mampu melakukan penyaringan dan penguatan kualitas inovasi agar tidak bersifat seremonial. Inovasi yang sudah berjalan baik didorong untuk direplikasi, sementara yang belum optimal akan dievaluasi secara objektif.
Langkah ini menjadi bukti bahwa Pemerintah Kota Probolinggo tidak sekadar mengejar angka indeks, melainkan membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Dengan kolaborasi antara ASN, perangkat daerah, dan masyarakat, inovasi diharapkan menjadi napas baru dalam tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, transparan, dan berpihak pada kepentingan publik.
Singkatnya: inovasi bukan tren sesaat. Di Kota Probolinggo, inovasi sedang dipaksa naik kelas dari ide di atas kertas menjadi solusi nyata di tengah masyarakat.