Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Sgb.news.id – Bojonegoro,– Kunjungan kerja DPRD Kota Probolinggo ke DPRD Bojonegoro bukan sekadar studi banding antarlembaga. Agenda utama yang dibahas adalah bagaimana akses internet publik benar-benar memberi manfaat langsung bagi masyarakat, bukan berhenti sebagai proyek infrastruktur semata.

Dalam koordinasi tersebut, DPRD Kota Probolinggo menggali pengalaman Bojonegoro dalam menghadirkan akses internet yang bisa dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari: mulai dari mengurus layanan administrasi, mencari informasi pendidikan, hingga mendukung aktivitas ekonomi berbasis digital.

Akses internet publik dinilai berdampak langsung pada kelompok masyarakat yang selama ini terbatas akses informasi, terutama pelajar, pelaku UMKM, dan warga di wilayah padat penduduk. Dengan jaringan internet yang tersedia dan mudah diakses, masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada paket data pribadi yang mahal dan tidak merata kualitasnya.

Dari paparan DPRD Bojonegoro, internet publik yang dikelola dengan baik dapat mendorong literasi digital warga. Masyarakat tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar mandiri, memasarkan produk lokal, hingga mengakses layanan pemerintahan secara daring. Dampak lanjutannya adalah efisiensi waktu, penghematan biaya, dan meningkatnya partisipasi publik.

Bagi DPRD Kota Probolinggo, praktik ini menjadi referensi penting untuk diterapkan di daerahnya. Akses internet di ruang publik diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas simbolik, melainkan menjadi alat pemberdayaan masyarakat. Ukurannya jelas: apakah warga benar-benar menggunakan, merasakan manfaat, dan terbantu dalam aktivitas ekonomi maupun sosial.

Baca juga  Jurnalis Radar CNN dan MADAS Sedarah Rencanakan Aksi, Soroti Penanganan Kasus Penganiayaan Kabiro Surabaya

Koordinasi antardaerah ini sekaligus menegaskan bahwa kebijakan digital yang tepat sasaran dapat mempersempit kesenjangan akses informasi. Ketika internet hadir di tengah masyarakat, peluang belajar terbuka, usaha kecil bisa naik kelas, dan layanan publik menjadi lebih transparan.

Langkah DPRD Kota Probolinggo ini diharapkan berujung pada kebijakan konkret yang menyentuh kebutuhan riil warga. Sebab pada akhirnya, pembangunan digital tidak diukur dari jumlah titik Wi-Fi, melainkan dari seberapa besar perubahan yang dirasakan masyarakat.