PROBOLINGGO – SGB-News.id — Di tengah fluktuasi harga bahan pokok, satu pesan ditegaskan, jangan hanya mengeluh, tanam. Itulah semangat yang dibawa TP-PKK Kota Probolinggo melalui Pelatihan Budidaya Tanaman Sayur yang digelar bagi kader Pokja 3 pangan tingkat kecamatan dan kelurahan se-Kota Probolinggo.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kegiatan ini bukan seremoni rutin. Ini langkah konkret memperkuat kemandirian pangan keluarga. Sebanyak puluhan kader dibekali teknik menanam, merawat, hingga mengendalikan hama secara ramah lingkungan. Targetnya jelas: pekarangan rumah berubah menjadi sumber pangan, bukan sekadar ruang kosong.
Perwakilan dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Probolinggo menegaskan bahwa pemanfaatan lahan sempit tetap bisa produktif jika dikelola dengan benar. Polybag, pot bekas, hingga sudut halaman bisa menjadi media tanam sayur seperti cabai, tomat, kangkung, dan sawi. Tidak perlu lahan luas. Yang dibutuhkan kemauan dan konsistensi.
Ketua TP-PKK Kota Probolinggo, dr. Evariani Aminuddin, menekankan bahwa kader PKK harus menjadi motor penggerak di lingkungan masing-masing. Menurutnya, gerakan ini bukan hanya soal mengurangi belanja dapur, tetapi membangun budaya mandiri.
“Kalau setiap rumah menanam, minimal untuk kebutuhan sendiri, dampaknya besar. Pengeluaran berkurang, gizi keluarga terjaga, dan lingkungan jadi lebih hijau,” ujarnya.
Pelatihan ini juga membekali peserta dengan praktik pembuatan pestisida nabati, sehingga tanaman bisa tumbuh tanpa ketergantungan bahan kimia berlebihan. Artinya, bukan hanya mandiri, tetapi juga sehat.
Di Kota Probolinggo, gerakan pemanfaatan pekarangan sebenarnya bukan hal baru. Namun kali ini, pendekatannya lebih sistematis. Kader yang sudah dilatih diharapkan menularkan ilmunya hingga tingkat dasawisma dan RT. Efeknya diharapkan berantai.
Langkah ini juga menjadi respons atas tantangan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Ketika harga sayur naik di pasar, warga yang menanam sendiri tidak terlalu terdampak. Sederhana, tapi strategis.
Jika gerakan ini konsisten, bukan tidak mungkin Kota Probolinggo bisa menjadi contoh urban farming berbasis keluarga. Bukan sekadar slogan “mandiri pangan”, tetapi praktik nyata dari dapur ke kebun kecil di halaman rumah.
Satu hal yang pasti, ketahanan pangan tidak lahir dari wacana. Ia tumbuh dari tanah yang digarap dan tangan yang mau bekerja.
(Redaksi)
