PROBOLINGGO | SGB-News id — Peringatan satu tahun kepemimpinan Wali Kota Probolinggo Aminuddin dan Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari ditandai dengan sebuah langkah yang tak biasa. Bukan panggung hiburan, bukan pula seremoni simbolik semata, tetapi warisan gagasan yang dibukukan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Sabtu (14/2), Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) Probolinggo Raya menggelar Seminar dan Soft Launching Buku Bunga Rampai Pemikiran IKA UB Probolinggo Raya: Refleksi 1 Tahun Pemerintahan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Probolinggo di Rumah Makan Sumber Hidup, Kota Probolinggo.
Buku ini bukan sekadar catatan apresiasi. Ia dirancang sebagai legacy — warisan intelektual yang diharapkan menjadi pijakan kebijakan pembangunan kota ke depan.
Ketua IKA UB Probolinggo Raya, Tri Septa Agung Pamungkas, menegaskan bahwa semua elemen sengaja diundang agar menjadi saksi atas catatan prestasi satu tahun kepemimpinan Amin–Ina. Namun, lebih dari itu, buku ini ditulis oleh para akademisi multi-disiplin: profesor, doktor, dokter, praktisi kelautan, hingga pelaku ekonomi kreatif.
“Kolaborasi intelektual ini kami harapkan menjadi smart guidance dan arah pembangunan Kota Probolinggo ke depan,” ujarnya.
Seminar dan peluncuran buku tersebut juga menghadirkan kontribusi pemikiran dari Rektor Universitas Brawijaya, Profesor Widodo, Menteri Haji RI Dr. KH Muhammad Irfan Yusuf yang juga alumni UB, hingga Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad.
Tri mengutip pepatah klasik “Verba Volant, Scripta Manent” — kata-kata akan terbang, tulisan akan abadi. Menurutnya, buku ini adalah dokumentasi sejarah yang akan tetap relevan lima, sepuluh, bahkan puluhan tahun mendatang.
Momentum ini menjadi momen emosional bagi Wali Kota Aminuddin. Ia mengaku bangga dan terharu atas apresiasi yang diberikan. Namun, baginya, buku ini bukan garis akhir, melainkan pemicu semangat baru.
“Kalau sekarang 25 penghargaan dari 28 OPD, Insya Allah 2026 kita targetkan di atas 30 penghargaan. Bahkan setiap tahun kami canangkan 100 hari kerja. Bukan hanya di awal masa jabatan, tetapi setiap tahun sebagai komitmen percepatan kinerja,” tegasnya.
Pernyataan tersebut bukan sekadar ambisi angka. Amin menekankan bahwa kekuatan pembangunan tidak lahir dari gedung pemerintahan, melainkan dari kelurahan dan desa. Ia mengaitkannya dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin keenam tentang penguatan wilayah akar rumput.
“Kalau kelurahan kuat, kecamatan akan kuat. Kalau kecamatan kuat, kota akan terangkat. Kekuatan ekonomi, budaya, pendidikan, semuanya bermula dari bawah,” ujarnya.
Sejak awal kepemimpinannya, Amin memilih menyerap persoalan langsung dengan berkantor di kelurahan. Pendekatan itu disebutnya sebagai cara memastikan kebijakan tidak lahir dari ruang tertutup, melainkan dari denyut kebutuhan masyarakat.
Pembina IKA UB Probolinggo Raya juga berharap gagasan dalam bunga rampai ini tidak berhenti sebagai diskursus akademik. Ia ingin ide-ide tersebut diturunkan menjadi aksi konkret yang menjadikan Kota Probolinggo sebagai mitra strategis akademis UB.
“Harapannya universitas lain juga terlibat. Bagaimana peran kampus benar-benar berdampak pada daerah sekitar,” tambahnya.
Acara tersebut juga diisi pemutaran Video Catatan Prestasi 1 Tahun Pemerintahan Amin–Ina, penyerahan buku secara simbolis kepada Wali Kota, serta pemberian cinderamata.
Turut hadir Ketua TP PKK Kota Probolinggo, perwakilan Forkopimda, Pj. Sekretaris Daerah, kepala perangkat daerah, perwakilan ormas, Komisioner KPU, Ketua Bawaslu, Ketua BEM, jajaran IKA UB, serta tamu undangan lainnya.
Satu tahun pertama telah dilalui. Namun, melalui buku ini, pesan yang ingin ditegaskan sederhana: pembangunan bukan hanya soal program berjalan, tetapi tentang gagasan yang terdokumentasi dan diwariskan. Karena prestasi bisa tercatat, tetapi ide yang dibukukan itulah yang bertahan.
Redaksi
