Sgb-News.id –PROBOLINGGO – Waktu bagi sebagian orang adalah rutinitas. Tapi bagi keluarga kecil di Dusun Krajan 1, Desa Sumberan, Kecamatan Besuk, waktu adalah ancaman yang terus mendekat.
Mereka tidak sedang mengejar masa depan. Mereka sedang berusaha menahan kehilangan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Di rumah sederhana itu, seorang balita bernama Nada Putri Masruri menjalani hidup yang tidak seharusnya dialami anak seusianya. Di usia yang baru menginjak tiga tahun, ia sudah harus berjuang melawan penyakit langka yang perlahan merusak organ paling vital dalam tubuhnya: hati.
Nada bukan lahir dari penantian singkat. Ia hadir setelah tujuh tahun doa dan harapan orang tuanya. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Saat berusia sekitar satu setengah bulan, tanda-tanda aneh mulai muncul. Mata Nada menguning, tinjanya pucat. Hal yang awalnya dianggap biasa, ternyata menjadi awal dari perjalanan panjang yang berat.
Hasil medis memastikan kenyataan pahit: Nada menderita Atresia Bilier, kelainan langka yang membuat saluran empedu tidak berfungsi normal. Akibatnya, empedu menumpuk dan perlahan merusak hati.
Masalahnya tidak berhenti di sana. Dokter juga menemukan kelainan jantung bawaan, ASD secundum.
Sejak saat itu, rumah sakit menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Nada.
Di usia 95 hari, ia sempat menjalani operasi Kasai—sebuah prosedur yang menjadi harapan awal penderita Atresia Bilier. Namun harapan itu runtuh. Operasi dinyatakan gagal. Kondisi Nada tidak membaik, justru semakin memburuk.
Infeksi datang silih berganti. Demam, diare, hingga penurunan kesadaran menjadi kondisi yang berulang. Bahkan, dalam fase tertentu, Nada mengalami muntah darah dan buang air besar berdarah—tanda bahwa kerusakan hatinya semakin parah.
Di rumah, hari-harinya jauh dari kata nyaman.
Tubuhnya terus terasa gatal akibat tingginya kadar bilirubin. Ia menggaruk kulitnya hingga luka. Air yang seharusnya menyegarkan justru terasa menyakitkan saat menyentuh tubuhnya.
Perutnya membesar akibat pembengkakan hati dan limpa. Kulitnya menggelap. Di usianya sekarang, Nada bahkan belum mampu berjalan sendiri.
Semua aktivitasnya masih bergantung pada gendongan.
“Dia kuat, sebenarnya,” ujar ibunya, Siti Aisyah, menahan haru. “Kalau mau tindakan medis, dia seperti paham. Tetap menangis, tapi tidak pernah rewel berlebihan.”
Kini, pilihan medis yang tersisa hanya satu: transplantasi hati.
Tanpa itu, kondisi Nada akan terus menurun. Waktu bukan lagi sekadar berjalan—ia sedang menghitung mundur.
Namun di titik paling krusial itu, keluarga dihadapkan pada kenyataan yang tak kalah berat: biaya.
Ayah Nada, M. As’ad, hanya seorang tenaga honorer dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan. Ibunya, guru taman kanak-kanak, menerima sekitar Rp300 ribu. Penghasilan tersebut bahkan sulit menutup kebutuhan harian, apalagi biaya transplantasi hati yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Tabungan sudah habis. Perhiasan telah dijual. Bantuan keluarga sudah dicoba. Tapi semuanya belum cukup.
Di sisi lain, kebutuhan medis Nada terus berjalan. Ia harus mengonsumsi susu khusus dengan harga tinggi. Kontrol rutin ke Surabaya juga menjadi beban tambahan, baik dari sisi biaya maupun tenaga.
Namun di tengah keterbatasan itu, satu hal yang belum hilang adalah harapan.
Bagi orang tua Nada, setiap hari adalah perjuangan untuk membeli waktu. Setiap doa adalah upaya untuk menjaga kemungkinan tetap hidup.
Nada bukan hanya sedang sakit. Ia sedang bertahan.
Dan kini, harapannya tidak hanya bergantung pada medis, tapi juga pada kepedulian.
Uluran Tangan untuk Nada
Di tengah kondisi yang semakin mendesak, keluarga Nada membuka pintu bagi siapa pun yang ingin membantu perjuangan ini.
Setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti tambahan kesempatan hidup bagi Nada.
Donasi dapat disalurkan melalui: 👉 https://kitabisa.com/campaign/nadabisaberobat
Selain bantuan materi, doa dan penyebaran informasi juga sangat berarti.
Karena bagi keluarga ini, bantuan bukan sekadar angka.
Tapi waktu.
Dan waktu, bagi Nada, adalah segalanya.