SGB-News.id°PROBOLINGGO – Ruang publik kembali bernapas. Event “Larasati” yang digelar Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo sukses menghadirkan denyut kehidupan di Area Jogging Track Taman Maramis, Jumat (27/3) malam.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Mengusung konsep “Jelajah Rasa, Nikmati Seni”, Larasati bukan sekadar agenda hiburan. Ia menjelma menjadi panggung kolaborasi mengawinkan geliat UMKM dengan ekspresi seni lokal dalam satu ruang yang terbuka dan inklusif.
Sejak petang, warga mulai memadati lokasi. Lapak-lapak kuliner berjejer, menghadirkan ragam cita rasa yang menggoda. Mulai dari Warung Kencur, D’Bell Pepper, Roti Imoet, Dasaran Godong, hingga angkringan—semuanya menjadi magnet yang menarik arus pengunjung.
Di sisi lain, panggung hiburan tak kalah menyita perhatian. Penampilan musik pop dari Selaras Band membuka suasana dengan nuansa santai. Disusul karawitan khas dari BMK Jack Nicklaus yang menguatkan identitas budaya. Kesenian pandalungan oleh Sanggar Mardi Budoyo dan irama dug-dug dari Kolosebo Kedungasem semakin mempertegas bahwa lokalitas bukan untuk dilupakan melainkan dirayakan.
Larasati menunjukkan satu hal penting: ketika ruang publik dihidupkan dengan konsep yang tepat, masyarakat datang bukan hanya untuk menikmati, tetapi juga untuk terlibat. Interaksi sosial terbentuk, ekonomi bergerak, dan seni menemukan panggungnya.
Namun, di balik semarak itu, ada pesan yang tak boleh diabaikan. Event seperti ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni sesaat. Konsistensi adalah kunci. Jika ingin menjadikan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung daerah, maka ruang-ruang seperti Larasati harus dijaga ritmenya—bukan hanya ramai di awal, lalu redup tanpa arah.
Dispopar Kota Probolinggo tampaknya mulai membaca kebutuhan itu. Tinggal satu pertanyaan: apakah ini akan menjadi gerakan berkelanjutan, atau sekadar euforia musiman?
Yang jelas, malam itu Larasati berhasil membuktikan ketika pemerintah memberi ruang, masyarakat siap menghidupkannya.
Yuliadi