PROBOLINGGO, SGB-NEWS – Rotasi dan promosi 88 Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dilakukan Pemerintah Kota Probolinggo tidak hanya menarik perhatian karena digelar pada malam hari. Salah satu yang paling menjadi sorotan adalah promosi sejumlah pejabat administrator, termasuk seorang camat, yang langsung melompat ke jabatan Kepala Dinas atau Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Dalam Keputusan Wali Kota Probolinggo Nomor 800.1.3.3/383/425.203/2026, Camat Mayangan Agus Dwiwantoro, S.STP., M.Si., resmi dipromosikan menjadi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Probolinggo. Jabatan tersebut merupakan posisi strategis, yang sebelumnya diduduki pejabat senior.
Promosi tersebut sontak menjadi perbincangan di kalangan birokrasi maupun masyarakat. Sebab dalam pola birokrasi konvensional, perjalanan menuju kursi kepala dinas umumnya melalui tahapan yang cukup panjang, seperti sekretaris dinas atau jabatan administrator strategis lainnya.
Namun Pemerintah Kota Probolinggo memastikan promosi tersebut bukan keputusan mendadak.
Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Probolinggo menjelaskan bahwa promosi dari jabatan administrator menuju Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama telah diakomodasi dalam Sistem Manajemen Talenta (SIMATA) yang diterapkan pemerintah daerah.
“Proses di SIMATA mengakomodir promosi dari administrator ke JPT dengan tiga kandidat yang mendapat pertek dari BKN,” jelas Kepala BKPSDM saat dikonfirmasi.
Penjelasan tersebut sekaligus menjawab berbagai pertanyaan terkait promosi pejabat administrator yang langsung menduduki kursi kepala dinas.
Sekretaris Daerah Kota Probolinggo Budiono Wirawan juga menegaskan bahwa seluruh proses mutasi dan promosi dilakukan berdasarkan evaluasi kinerja, uji kompetensi, serta pemetaan manajemen talenta yang telah berjalan.
Menurutnya, pelantikan yang dilakukan bukan sekadar mutasi rutin, melainkan bagian dari strategi penataan birokrasi dan penyegaran organisasi untuk menjawab tantangan pemerintahan yang semakin kompleks.
Meski demikian, promosi camat menjadi kepala dinas tetap menyisakan ruang diskusi publik. Sebagian kalangan menilai langkah tersebut dapat menjadi angin segar bagi regenerasi birokrasi karena membuka peluang bagi pejabat berprestasi untuk naik lebih cepat tanpa harus menunggu senioritas semata.
Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai kesiapan pejabat yang dipromosikan dalam mengelola organisasi perangkat daerah dengan ruang lingkup dan tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Anggota Aliansi Madura Indonesia (AMI), Dierel, menilai promosi tersebut sah dan tidak perlu dipersoalkan selama seluruh proses dilakukan sesuai aturan dan mekanisme yang berlaku.
“Kalau memang melalui SIMATA, evaluasi kinerja, uji kompetensi dan sudah mendapatkan pertimbangan teknis dari BKN, tentu harus dihormati. Yang terpenting sekarang bukan lagi bagaimana seseorang mendapatkan jabatan itu, tetapi bagaimana dia membuktikan kapasitasnya setelah menjabat,” ujarnya.
Menurut Dierel, promosi langsung dari camat menjadi kepala dinas justru menjadi ujian bagi sistem manajemen talenta yang selama ini diklaim sebagai instrumen untuk menghasilkan birokrasi profesional.
“Ini momentum pembuktian. Kalau pejabat yang dipromosikan mampu meningkatkan kinerja OPD, mempercepat pelayanan publik dan menghadirkan inovasi, maka sistem manajemen talenta terbukti berjalan efektif. Tetapi jika tidak ada perubahan berarti, publik tentu akan mempertanyakan efektivitas sistem tersebut,” katanya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak terlalu memperdebatkan siapa yang menduduki jabatan tertentu. Yang lebih penting adalah dampak kebijakan tersebut terhadap pelayanan publik.
Rotasi 88 ASN yang dilakukan Pemerintah Kota Probolinggo memang telah memperoleh dasar administratif dari Badan Kepegawaian Negara dan melalui mekanisme manajemen talenta. Namun promosi seorang camat langsung menjadi kepala dinas kini menjadi salah satu perhatian utama publik.
Karena pada akhirnya, jabatan bukan sekadar penghargaan atas capaian masa lalu, melainkan amanah untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik. Publik kini menunggu apakah promosi tersebut akan melahirkan terobosan baru atau justru menjadi eksperimen birokrasi yang harus diuji oleh waktu.
Tim-Redaksi