Kota Probolinggo| SGB-News.id – Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Probolinggo (Dispersip) menggelar Sosialisasi Akuisisi Arsip Masyarakat sekaligus membuka Lomba Arsip Foto Kuno, Jumat pagi (06/02), di Puri Manggala Bhakti. Kegiatan ini menjadi penanda keseriusan pemerintah daerah dalam menyelamatkan memori kolektif warga sekaligus mendorong pemanfaatan arsip sebagai sumber pengetahuan dan penggerak pembangunan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Acara dibuka secara resmi oleh Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kota Probolinggo, Agus Efendy. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya arsip sebagai rekam jejak perjalanan kota, bukan sekadar tumpukan dokumen masa lalu. Arsip, kata dia, adalah fondasi perencanaan masa depan yang berakar pada identitas dan sejarah.
Sekretaris Dispersip Kota Probolinggo, Yoyok Imam, menjelaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini bertujuan menyelamatkan, mengamankan, serta menjaga ketersediaan informasi dan memori bersejarah masyarakat melalui pengelolaan kearsipan yang digital dan berkelanjutan. Menurutnya, arsip masyarakat—termasuk foto-foto kuno—memiliki nilai strategis yang kerap terabaikan, padahal menyimpan cerita perubahan sosial, budaya, dan tata kota dari masa ke masa.
“Ini bukan nostalgia kosong. Arsip adalah sumber data. Foto-foto lama memberi kita bukti visual tentang bagaimana kota ini tumbuh, berubah, dan bertahan. Dari situlah kebijakan yang berwawasan ke depan bisa dirumuskan,” ujarnya.
Lomba Arsip Foto Kuno yang dibuka bersamaan dengan sosialisasi ini menjadi magnet utama kegiatan. Selain mengajak warga berpartisipasi aktif, lomba ini juga diharapkan dapat mengangkat kembali potensi pengembangan kepariwisataan Kota Probolinggo. Foto-foto lama, kata Yoyok, bukan hanya arsip visual, tetapi juga narasi yang bisa dikemas menjadi daya tarik wisata berbasis sejarah dan budaya lokal.
Ia menambahkan, Dispersip memiliki mandat untuk menggali informasi historis perjalanan Kota Probolinggo sejak masa pascakemerdekaan hingga saat ini. Arsip-arsip tersebut diperlukan sebagai referensi dalam pengembangan kota ke depan—mulai dari penataan ruang, penguatan identitas kota, hingga promosi pariwisata yang autentik.
“Perlu diketahui, lomba arsip foto ini terakhir kali dilaksanakan pada 2005. Artinya, sudah 21 tahun berlalu. Saya yakin, dalam rentang waktu itu banyak sekali perubahan yang terjadi. Dan perubahan itu perlu didokumentasikan, bukan hanya diingat,” tegasnya.
Kegiatan ini juga menjadi ajakan terbuka kepada masyarakat untuk tidak ragu menyerahkan atau meminjamkan arsip pribadinya kepada Dispersip. Pemerintah menjamin proses akuisisi dilakukan secara profesional, dengan pendekatan digitalisasi sehingga arsip tetap aman dan dapat diakses untuk kepentingan edukasi serta penelitian.
Melalui sosialisasi dan lomba ini, Dispersip ingin menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar sejarah. Kota yang besar bukan hanya yang cepat membangun, tetapi yang mampu mengingat dan merawat jejak langkahnya sendiri. Di sinilah arsip berbicara—jujur, apa adanya, dan relevan untuk masa depan Kota Probolinggo.
Tim-Redaksi