PROBOLINGGO | SGB-News.id — Rencana pelaksanaan SAE Run Highway 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 8 Februari 2026, di ruas jalan tol dengan titik start dan finish Exit Tol Kraksaan, mendapat sorotan dari kalangan masyarakat sipil. Kegiatan tersebut dinilai tidak selaras dengan kondisi sebagian warga Kabupaten Probolinggo yang hingga kini masih terdampak banjir di sejumlah wilayah. 07/02
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Pembina Koalisi Masyarakat SAE Patenang, Syarful Anam, menyampaikan bahwa kritik yang disampaikan tidak dimaksudkan untuk menolak kegiatan olahraga. Namun, ia mempertanyakan waktu dan lokasi penyelenggaraan kegiatan tersebut di tengah situasi sosial masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dari bencana.
“Banjir yang terjadi memang dipengaruhi banyak faktor, salah satunya curah hujan tinggi. Namun pembangunan jalan tol juga memiliki dampak lingkungan yang perlu diperhitungkan,” ujar Syarful, Sabtu (7/2/2026).
Menurutnya, di beberapa wilayah seperti Kecamatan Krejengan, pembangunan jalan tol telah menimbulkan dampak yang dapat dilihat secara langsung, khususnya pada kondisi lingkungan dan infrastruktur dasar. Ia menyoroti kerusakan sejumlah ruas jalan yang hingga kini belum ditangani secara menyeluruh.
“Kerusakan jalan penghubung Semampir–Krejengan dan ruas jalan di kawasan Pabrik Gudang Garam Paiton menuju Kecamatan Kotaanyar merupakan dampak dari aktivitas pembangunan jalan tol. Sampai saat ini, perbaikan yang dilakukan belum menyelesaikan persoalan secara tuntas,” katanya.
Syarful menambahkan, meskipun sempat dilakukan perbaikan setelah adanya tuntutan masyarakat, kondisi jalan Gudang Garam–Kotaanyar masih belum optimal dan tetap menjadi keluhan warga.
Terkait pelaksanaan SAE Run Highway 2026 di atas jalan tol, Syarful menilai kegiatan tersebut perlu mempertimbangkan situasi masyarakat yang masih terdampak banjir. Menurutnya, penyelenggaraan event di infrastruktur yang dikaitkan oleh sebagian warga dengan dampak lingkungan menimbulkan pertanyaan di ruang publik.
“Di saat sebagian masyarakat masih fokus pada pemulihan pascabanjir, kegiatan ini memunculkan persepsi kurangnya kepekaan terhadap kondisi sosial,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa perhatian pemerintah daerah seharusnya lebih diarahkan pada pemulihan pascabencana serta perbaikan infrastruktur dasar yang terdampak, seiring dengan kebijakan efisiensi anggaran yang sedang berjalan.
“Penggunaan anggaran perlu diprioritaskan pada kebutuhan mendasar masyarakat,” tambahnya.
Syarful menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak kegiatan publik maupun hiburan, namun berharap adanya keseimbangan antara penyelenggaraan event dan penanganan persoalan yang dihadapi warga.
“Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah kepastian pemulihan dan penyelesaian dampak pembangunan,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara SAE Run Highway 2026 maupun Pemerintah Kabupaten Probolinggo belum memberikan pernyataan resmi terkait kritik tersebut. Redaksi masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait untuk memperoleh klarifikasi guna memenuhi prinsip keberimbangan pemberitaan sesuai Kode Etik Jurnalistik.
Tim-Redaksi