PROBOLINGGO | SGB-News.id – Pengabdian yang konsisten sering kali tidak berisik, tetapi dampaknya terasa. Itulah gambaran kegiatan penutupan pengajian rutin Muslimat yang telah berlangsung selama 23 tahun di sebuah mushola di Probolinggo, Minggu malam Senin (8/2). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Hasan Irsad, dengan penekanan kuat pada nilai kepedulian sosial dan keikhlasan berbagi.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dalam keterangannya, Hasan Irsad menjelaskan bahwa pengajian malam Senin tersebut merupakan kegiatan rutin tahunan yang setiap menjelang Ramadan diliburkan hingga bulan Syawal. Penutupan tahun ini kembali diisi dengan agenda sosial yang konsisten ia lakukan dari tahun ke tahun, yakni penyaluran zakat dan bantuan kebutuhan pokok kepada jamaah.
“Kurang lebih ada dua ribu jamaah yang saya dampingi. Setiap akhir tahun saya beri seragam, zakat keluarga saya, termasuk zakat anak-anak saya. Saya tambah minyak dan gula. Semuanya diterima langsung oleh jamaah,” ungkapnya.
Zakat dan bantuan tersebut secara khusus diperuntukkan bagi kelompok fakir, dhuafa, dan para janda yang selama ini menjadi bagian dari jamaah pengajian. Bahkan, kepedulian itu tidak berhenti di lingkungan mushola. Para sopir yang hadir, hingga petugas keamanan di rumah beliau di Surabaya dan Probolinggo, juga turut menerima perhatian serupa.
Hasan Irsad menyebut aktivitas ini sebagai bagian dari “ngramot” atau merawat umat. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukanlah agenda seremonial, apalagi bermuatan politis. “Ini murni kegiatan rutin. Saya tidak pernah membawa politik ke jamaah. Ini soal tanggung jawab moral,” tegasnya.
Dalam sesi tanya jawab singkat, Hasan Irsad juga menyinggung isu pencalonan kembali dalam kontestasi politik. Dengan nada rendah hati, ia menyampaikan bahwa pada usia 77 tahun, keputusan politik bukanlah prioritas utama. “Politik itu dinamis. Saya sampaikan ke jamaah agar tidak berharap terlalu jauh. Soal nanti bagaimana, wallahu a’lam,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan sikapnya yang memilih kejujuran sejak awal, tanpa menggiring harapan jamaah untuk kepentingan pribadi. Sikap ini menjadi pembeda di tengah realitas politik yang kerap menjadikan ruang keagamaan sebagai alat konsolidasi.
Selama lebih dari dua dekade, pengajian ini berjalan tanpa hiruk-pikuk, tanpa baliho, dan tanpa janji. Yang ada hanyalah kesinambungan, kehadiran, dan kepedulian nyata. Sebuah teladan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus dipamerkan, cukup dijalankan secara konsisten.
Bagi jamaah, Hasan Irsad bukan sekadar wakil rakyat, melainkan figur yang hadir dalam keseharian mereka. Dan di tengah iklim publik yang sering lelah dengan janji, praktik seperti inilah yang justru berbicara paling lantang tanpa perlu mikrofon politik.
Redaksi