PROBOLINGGO, SGB-News.id – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Probolinggo sejak sore hingga malam hari, Sabtu (14/2/2026), menyisakan persoalan serius di dunia pendidikan. Atap ruang kelas SDN Pamatan II, Kecamatan Tongas, dilaporkan remuk sekitar pukul 01.00 WIB.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Bangunan yang baru berdiri pada 2024 itu kini menyisakan puing. Baja ringan dan plafon di ruang kelas 1, 2, dan 3 tampak hancur berserakan. Beruntung, peristiwa terjadi dini hari sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Namun aktivitas belajar mengajar dipastikan terganggu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo, Hari Tjahjono, membenarkan adanya kerusakan pada tiga unit bangunan sekolah akibat hujan deras.
“Peristiwa ini diduga kuat terjadi akibat struktur bangunan tak mampu menahan beban curah hujan dan kondisi tanah labil. Beruntung tidak ada korban jiwa, namun kegiatan belajar mengajar terganggu,” ujarnya.
Pihak dinas menyatakan telah melakukan langkah darurat dengan mengosongkan ruang kelas terdampak dan memindahkan kegiatan belajar ke ruang lain yang masih layak pakai. Perbaikan permanen disebut akan menggunakan anggaran Tak Terduga (TT).
Namun pertanyaan publik tidak berhenti pada perbaikan sementara. Bangunan yang baru dua tahun berdiri semestinya dirancang dengan standar ketahanan struktur yang memadai, termasuk memperhitungkan intensitas hujan ekstrem yang bukan lagi fenomena langka.
Jika penyebabnya tanah labil, di mana hasil uji laboratorium tanah saat tahap perencanaan? Jika karena beban air hujan, bagaimana perhitungan beban struktur dan spesifikasi baja ringan yang digunakan? Tanpa data teknis seperti audit struktur, gambar kerja, maupun laporan intensitas curah hujan dari BMKG, dugaan tersebut tetap berada pada ranah asumsi awal.
Insiden ini membuka ruang evaluasi lebih luas terhadap kualitas pembangunan sarana pendidikan. Pembangunan fisik sekolah bukan sekadar menyelesaikan proyek tepat waktu atau menyerap anggaran, tetapi memastikan keamanan jangka panjang bagi siswa dan tenaga pendidik.
Di sisi lain, penggunaan anggaran Tak Terduga untuk perbaikan juga perlu diawasi. Publik berhak mengetahui apakah kerusakan ini murni akibat faktor alam, atau ada persoalan dalam perencanaan, pengawasan, maupun pelaksanaan konstruksi.
SGB-News menilai, evaluasi menyeluruh tidak cukup dilakukan di satu titik. Dinas Pendidikan perlu melakukan uji kelayakan struktur terhadap sekolah-sekolah lain, terutama yang dibangun di wilayah dengan karakter tanah labil. Audit teknis independen akan jauh lebih objektif dibanding sekadar penilaian internal.
Keselamatan siswa tidak boleh bergantung pada keberuntungan karena insiden terjadi di luar jam belajar. Jika ambruk terjadi saat jam sekolah, konsekuensinya bisa jauh lebih fatal.
Transparansi adalah kunci. Buka dokumen perencanaan, paparkan hasil evaluasi teknis, dan pastikan standar konstruksi dipenuhi sesuai regulasi. Pendidikan yang kuat bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga bangunan yang benar-benar aman.
Kami membuka ruang konfirmasi lebih lanjut dari pihak pelaksana proyek, konsultan perencana, serta instansi teknis terkait guna menjaga keberimbangan informasi dan memastikan publik mendapatkan kejelasan.
Tim-Redaksi
