PROBOLINGGO | SGB-News.id – Suasana berbeda terlihat di salah satu sudut trotoar Kota Probolinggo pada Minggu (22/3/2026) pukul 20.00 WIB. Di tengah hiruk-pikuk malam Ramadan, dua penyuluh agama memilih turun langsung ke jalan, duduk sejajar bersama anak-anak jalanan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Mohammad Thoyib Maulana dan Badrul Munir tidak membawa mimbar, tidak pula berdiri memberi ceramah satu arah. Mereka menggelar karpet sederhana, membentuk lingkaran kecil, dan membuka ruang dialog yang hangat namun penuh makna.
Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk diskusi santai yang bertujuan memberikan bimbingan spiritual sekaligus edukasi sosial bagi anak-anak yang sehari-harinya hidup di jalanan.
Dalam pertemuan itu, Mohammad Thoyib Maulana menyoroti bahaya penyalahgunaan narkoba. Ia menyampaikan pesan lugas bahwa zat terlarang hanya menawarkan kesenangan sesaat dengan konsekuensi panjang.
“Ramadan adalah waktu membersihkan hati. Jangan rusak masa depan hanya karena godaan sesaat,” ujarnya.
Menurutnya, banyak remaja terjerumus karena minim pendampingan dan lemahnya kontrol lingkungan. Ia menegaskan bahwa menjaga diri dari narkoba adalah langkah awal menyelamatkan masa depan.
Sementara itu, Badrul Munir menyinggung fenomena tawuran yang kerap melibatkan remaja. Ia menilai solidaritas yang salah arah sering menjadi pemicu konflik.
“Tawuran bukan bukti keberanian. Itu hanya membuka pintu masalah hukum,” tegasnya.
Ia mengajak mereka mengalihkan energi ke kegiatan yang lebih produktif selama Ramadan, seperti kegiatan sosial atau pembinaan diri.
Yang menonjol dari kegiatan ini adalah pendekatan humanis. Tidak ada penghakiman. Tidak ada stigma. Anak-anak jalanan diberi ruang untuk berbicara dan didengar.
Beberapa dari mereka tampak aktif bertanya dan berbagi cerita. Suasana dialog berlangsung cair, diselingi canda ringan dan hidangan sederhana.
Langkah ini menunjukkan bahwa pembinaan sosial tidak selalu harus formal dan kaku. Kadang, yang dibutuhkan hanya duduk bersama dan mendengar.
Aksi nyata tersebut menjadi gambaran bahwa dakwah bisa hadir di mana saja bahkan di trotoar kota, di bawah lampu jalan, di tengah lalu lintas yang masih ramai.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda musiman Ramadan. Pembinaan berkelanjutan dinilai penting agar anak-anak jalanan memiliki arah hidup yang lebih jelas dan terhindar dari jerat narkotika maupun kriminalitas.
Ramadan bukan sekadar ritual ibadah, tetapi momentum membangun kepedulian sosial. Dan pada Minggu malam itu, nilai tersebut diwujudkan secara nyata di ruang terbuka Kota Probolinggo.
Arini