JAKARTA | SGB-News.id – Komitmen pengelolaan sampah di Kota Probolinggo mendapat pengakuan dari pemerintah pusat. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 1048 Tahun 2026 tentang Penilaian Kinerja Pengelolaan Sampah Tahun 2025, Kota Probolinggo meraih predikat Sertifikat Menuju Kota Bersih.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, kepada Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, di sela Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Tahun 2026 di Balai Kartika, Jakarta, Rabu (25/2).
Dari total 514 kabupaten/kota se-Indonesia, hanya 35 daerah yang memperoleh predikat Sertifikat Menuju Kota Bersih. Sementara itu, 253 daerah masuk kategori pembinaan dan 132 daerah dalam pengawasan. Hingga penilaian tahun 2025, belum ada daerah yang meraih Adipura maupun Adipura Kencana.
Total nilai akhir Kota Probolinggo tercatat 61,61. Penilaian mencakup aspek kebijakan dan anggaran, sumber daya manusia, fasilitas pengelolaan sampah, serta capaian kinerja kebersihan.
“Kita patut berbangga. Dari 514 daerah, hanya 35 yang menerima predikat ini. Ini bukan sekadar plakat, tetapi bukti kerja nyata masyarakat Kota Probolinggo,” ujar Aminuddin.
Namun, ia menegaskan capaian tersebut bukan titik akhir. Target berikutnya adalah Adipura Kencana. Untuk mencapainya, perubahan budaya pengelolaan sampah dinilai menjadi kunci utama.
“Sudah saatnya kita ubah pola pikir. Jangan ada lagi tumpukan sampah. Kota harus bersih dan bebas banjir,” tegasnya.
Penilaian Ketat dan Berbasis Sistem
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Probolinggo, Retno Wandansari, menjelaskan bahwa indikator penilaian tahun 2025 mengalami perubahan signifikan. Salah satu yang paling krusial adalah aspek anggaran, yang diwajibkan minimal 3 persen dari total APBD untuk pengelolaan sampah.
Selain itu, keberadaan SDM penyuluh yang efektif, sistem pengelolaan yang terukur, serta capaian kebersihan menjadi indikator penting.
“Tahun 2026, kami diwajibkan memiliki Rencana Induk Pengelolaan Sampah dalam bentuk Perwali yang saat ini sedang berproses. Ini menjadi dasar tata kelola yang lebih terstruktur,” ujar Retno.
Ia menambahkan, edukasi melalui KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) akan diperkuat dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari camat, lurah, hingga PKK.
Menurutnya, peran masyarakat tetap menjadi faktor utama. Teknologi dan mesin hanyalah alat bantu. Tanpa partisipasi warga, persoalan sampah tidak akan selesai.
“Memilah sampah itu wajib. Jangan sampai TPA Bestari mengalami over kapasitas atau longsor. Kesadaran harus dimulai dari rumah,” tegas Retno.
Gerakan ASRI dan Arah Kebijakan Nasional
Dalam konteks lokal, Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) terus digencarkan melalui kerja bakti dan kolaborasi lintas sektor. Program ini disebut sejalan dengan arah kebijakan kementerian dan pemerintah pusat dalam memperbaiki tata kelola lingkungan.
Rakornas Pengelolaan Sampah 2026 juga menjadi forum sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menekankan pentingnya harmonisasi kebijakan pengelolaan sampah nasional.
Sementara Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menggarisbawahi peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam memastikan sistem pengelolaan berjalan efektif dan akuntabel.
Arahan juga datang dari kementerian lain, termasuk penguatan peran keluarga dalam perubahan perilaku serta pembangunan infrastruktur persampahan berkelanjutan.
Langkah Awal, Bukan Garis Finish
Predikat menuju kota bersih adalah pijakan, bukan puncak. Nilai 61,61 menunjukkan masih ada ruang perbaikan. Pemerintah pusat secara tegas meminta seluruh daerah melakukan pembenahan komprehensif.
Artinya jelas: jika ingin naik kelas ke Adipura, Kota Probolinggo harus memperkuat tata kelola, meningkatkan disiplin pemilahan sampah, memperluas edukasi, dan memastikan anggaran benar-benar tepat sasaran.
Plakat bisa dipajang di dinding. Tapi kebersihan kota diuji setiap hari di jalan, selokan, dan TPS.
Pertanyaannya sederhana: apakah semangat ini bertahan setelah seremoni selesai?
Kota Probolinggo sudah melangkah. Sekarang tinggal konsistensi.
Ferd