PROBOLINGGO, SGB NEWS – Ada cara berbeda yang dilakukan Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, Sp.OG(K)., M.Kes., dalam menyapa warganya. Bukan lewat forum resmi atau rapat tertutup, melainkan dengan mengayuh sepeda sejauh kurang lebih 10 kilometer, Minggu (5/4).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Didampingi sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo, kegiatan gowes ini bukan sekadar olahraga. Di balik rute yang dilalui, terselip misi nyata: melihat langsung kondisi kota, mendengar suara warga, dan merasakan denyut kehidupan masyarakat dari dekat.
Perjalanan dimulai dari Rumah Jabatan Wali Kota di Jalan Panglima Sudirman. Rombongan kemudian melintasi sejumlah ruas jalan utama seperti Jalan Soekarno Hatta, Jalan Brantas, Jalan Bengawan Solo, hingga Jalan Karang Tengah, sebelum akhirnya finis di kediaman anggota Komisi II DPRD Kota Probolinggo, Masda Putri Amelia, di Kelurahan Pakistaji, Kecamatan Wonoasih.
Di tengah perjalanan, rombongan sempat berhenti di Jalan Bengawan Solo. Bukan tanpa alasan, melainkan bentuk solidaritas. Beberapa peserta tertinggal karena medan tanjakan di awal rute.
“Di awal tadi ada tanjakan, jadi kita berhenti sekitar lima menit untuk menunggu peserta yang tertinggal. Setelah lengkap, baru kita lanjutkan,” ujar Wali Kota Aminuddin.
Momen ini sederhana, tapi sarat makna. Bahwa dalam perjalanan membangun kota, tidak boleh ada yang ditinggalkan.
Yang paling menarik terjadi saat rombongan memasuki kawasan Jalan Karang Tengah. Hamparan persawahan luas menyambut, berpadu dengan kondisi jalan makadam yang masih membutuhkan perhatian. Di titik inilah, kegiatan gowes berubah menjadi agenda peninjauan lapangan.
Wali kota tampak serius mengamati kondisi jalan. Baginya, ini bukan sekadar jalur sepeda, melainkan potensi jalur penghubung ekonomi warga.
“Ini kawasan yang punya potensi besar. Infrastruktur jalannya harus kita pikirkan ke depan, agar mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian bisa lebih lancar,” ungkapnya.
Tak hanya itu, dalam perjalanan tersebut, wali kota juga menyempatkan diri berinteraksi dengan warga hingga melihat aktivitas peternakan, termasuk panen telur ayam milik masyarakat setempat. Hal ini menjadi gambaran nyata bahwa sektor ekonomi mikro terus bergerak dan membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah.
Kegiatan gowes ini seolah menegaskan satu hal: pemimpin yang turun langsung ke lapangan akan melihat realitas tanpa filter. Tidak hanya menerima laporan di atas meja, tetapi menyaksikan sendiri kondisi riil yang dialami masyarakat.
Langkah sederhana ini menjadi inspirasi bahwa membangun kota tidak selalu harus dimulai dari ruang rapat. Kadang, cukup dengan mengayuh sepeda, menyusuri jalanan, dan membuka mata terhadap apa yang selama ini luput dari perhatian.
Dan dari gowes 10 kilometer ini, satu pesan kuat tersampaikan bahwa kepemimpinan bukan soal jarak dari rakyat, melainkan seberapa dekat ia mau hadir di tengah mereka.
Ferdi