SGB°PROBOLINGGO – Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) kembali menggelar ajang tahunan bergengsi, Pemilihan Duta Wisata Kang dan Yuk Kota Probolinggo Tahun 2026. 10/04. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat promosi sektor pariwisata, budaya, serta ekonomi kreatif di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin kompetitif.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Ajang Kang dan Yuk bukan sekadar kontes penampilan atau popularitas. Lebih dari itu, kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembinaan generasi muda agar mampu menjadi representasi daerah yang cerdas, komunikatif, dan memiliki pemahaman mendalam terhadap potensi lokal. Pemerintah daerah tampak tidak ingin sekadar “punya ikon,” tetapi benar-benar mencetak figur yang bisa bekerja.
Dalam penyelenggaraan tahun 2026 ini, para peserta akan melewati tahapan seleksi yang cukup ketat dan terstruktur. Proses dimulai dari tahap pra karantina, di mana peserta diseleksi berdasarkan administrasi, wawasan umum, hingga kemampuan dasar komunikasi. Selanjutnya, mereka yang lolos akan mengikuti masa karantina yang menjadi fase pembinaan intensif, sebelum akhirnya tampil di malam Grand Final sebagai puncak penentuan pemenang.
Kepala Dispopar Kota Probolinggo menegaskan bahwa standar yang diterapkan tahun ini tidak main-main. Menurutnya, duta wisata yang dibutuhkan saat ini bukan hanya yang berpenampilan menarik, tetapi juga yang mampu menjawab tantangan zaman, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital.
“Duta wisata hari ini harus adaptif. Mereka bukan hanya tampil di panggung, tetapi juga harus mampu mempromosikan potensi daerah melalui media sosial dan platform digital lainnya. Ini yang menjadi fokus pembinaan kami,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan pergeseran paradigma dalam promosi pariwisata. Jika dulu promosi bertumpu pada event fisik dan brosur, kini peran digital menjadi dominan. Di titik ini, Kang dan Yuk dituntut menjadi “content creator” sekaligus duta budaya. Tidak cukup hanya fasih berbicara, mereka juga harus mampu membangun narasi yang menarik tentang Kota Probolinggo di ruang digital.
Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman tentang potensi unggulan daerah, mulai dari destinasi wisata alam, budaya, hingga produk ekonomi kreatif lokal. Harapannya, para finalis tidak hanya hafal materi, tetapi benar-benar memahami dan mampu menyampaikannya dengan pendekatan yang relevan kepada berbagai kalangan.
Ajang ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap daerahnya sendiri. Dalam banyak kasus, promosi wisata justru lemah karena kurangnya kebanggaan lokal. Kang dan Yuk diharapkan menjadi agen perubahan yang bisa membalik kondisi tersebut.
“Kalau anak mudanya sendiri tidak bangga, jangan harap orang luar tertarik datang. Ini yang coba kita bangun lewat ajang ini,” tambahnya.
Dengan mengusung semangat kreativitas dan inovasi, Pemilihan Duta Wisata Kang dan Yuk Kota Probolinggo 2026 diharapkan tidak hanya menghasilkan pemenang, tetapi juga melahirkan generasi muda yang siap berkontribusi nyata dalam pembangunan sektor pariwisata.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu menjadi wajah dan suara daerah. Jika dikelola dengan serius, Kang dan Yuk bukan hanya simbol seremonial tahunan, melainkan aset strategis dalam mendorong peningkatan kunjungan wisatawan serta menggerakkan ekonomi lokal.
Dengan demikian, penyelenggaraan tahun ini diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih konkret, tidak hanya pada citra pariwisata Kota Probolinggo, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.
Solihin