LUMAJANG, Sgb-news.id – Aksi kriminalitas kembali menghantam wilayah pedesaan. Kali ini, pencurian sapi terjadi di Desa Alun-Alun, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang. Dalam satu malam, dua keluarga menjadi korban, dengan total lima ekor sapi raib digondol maling.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Peristiwa tersebut menimpa Rohim, warga Dusun Darungan, yang kehilangan tiga ekor sapi, serta Mair, warga Dusun Krajan, yang kehilangan dua ekor sapi. Pencurian diketahui terjadi pada Jumat dini hari (16/1/2026), dengan selisih waktu yang tidak terpaut jauh.
Menurut keterangan warga dan keluarga korban, sapi-sapi tersebut masih berada di kandang saat dicek sekitar tengah malam hingga dini hari. Rohim terakhir mengecek ternaknya sekitar pukul 00.00 WIB dan memastikan tiga ekor sapinya masih ada. Sementara Mair mengecek sekitar pukul 01.20 WIB dan mendapati dua ekor sapinya juga masih berada di kandang.
Namun, sekitar pukul 05.30 WIB, kedua korban terkejut saat mendapati kandang di belakang rumah mereka sudah kosong.
[sitekit_posts posts_per_page=”4″ order=”DESC” orderby=”date”]“Kami menerima laporan dari warga terkait kehilangan sapi. Total ada lima ekor sapi yang hilang. Saat ini warga masih melakukan pengejaran, dibantu warga desa tetangga,” ujar salah satu warga setempat kepada awak media.
Kerugian akibat pencurian tersebut ditaksir mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta. Nilai yang tidak kecil bagi warga desa yang menggantungkan hidup dari ternak.
Ironisnya, hingga beberapa waktu setelah kejadian, warga mengaku tidak melihat kehadiran aparat kepolisian di lokasi kejadian. Kondisi ini memicu kekecewaan dan kemarahan warga.
“Kami kecewa. Kejadian sebesar ini, tapi tidak ada polisi yang terlihat di TKP. Kalau dalam situasi seperti ini aparat tidak cepat muncul, lalu di mana fungsi mengayomi masyarakat?” ungkap salah satu warga dengan nada kesal.
Saat ini, warga Desa Alun-Alun bersama warga desa sekitar masih berupaya melakukan pencarian secara mandiri. Sementara para korban hanya bisa berharap agar sapi-sapi mereka dapat ditemukan kembali.
Kasus ini kembali menampar wajah penegakan hukum di wilayah pedesaan. Ketika kriminalitas nyata terjadi dan kerugian puluhan juta menimpa rakyat kecil, yang tampak bergerak justru warga. Bukan aparat.
Pertanyaannya sederhana, namun menohok: ketika masyarakat sudah turun tangan sendiri, di mana sebenarnya negara berdiri?