BANYUWANGI –,Sgb.news id Menghadapi potensi meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi pada musim hujan tahun ini, Polresta Banyuwangi mengambil langkah penguatan kesiapsiagaan lintas instansi. Bersama BMKG serta unsur forkopimda, Polresta Banyuwangi menyelenggarakan Apel Kesiapan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi yang digelar di halaman Mapolresta Banyuwangi.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, menuturkan bahwa koordinasi yang terintegrasi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Kita perlu memastikan sistem penanganan darurat berjalan efektif. Mulai dari tahapan evakuasi, pendistribusian bantuan, layanan pemulihan psikologis, hingga pemulihan ekonomi warga terdampak harus berada dalam satu irama,” ujar Kombes Pol Rama dalam amanatnya.
Ia menambahkan, upaya mitigasi tidak hanya terfokus pada peralatan, tetapi juga pembekalan pemahaman kepada masyarakat. Menurutnya, kesiapsiagaan yang melibatkan partisipasi publik akan mempercepat proses penanganan jika terjadi situasi darurat.
BMKG sebelumnya melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan dengan puncak intensitas diperkirakan berlangsung pada November 2025 hingga Januari 2026. Fenomena La Nina berpotensi memperkuat curah hujan sehingga risiko banjir, tanah longsor, puting beliung, hingga gelombang tinggi di kawasan pesisir dapat meningkat.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Polresta Banyuwangi bersama Pemerintah Kabupaten, BPBD, dan TNI melakukan pemetaan wilayah rawan bencana serta memperbarui jalur evakuasi di titik-titik krusial. Hal ini dilakukan agar masyarakat memiliki akses cepat menuju lokasi aman saat terjadi ancaman bencana.
“Kami juga mengoptimalkan sistem peringatan dini dan komunikasi lintas sektor agar keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin,” lanjut Kapolresta.
Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, yang turut hadir dalam apel, menegaskan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia merupakan bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat. Sosialisasi dan simulasi rutin terus digencarkan ke wilayah yang tergolong rentan bencana.
Salah satu program edukasi yang tengah dikembangkan pemerintah daerah adalah Tagana Masuk Sekolah (Tamasa). Program ini menyasar pelajar tingkat dasar hingga menengah untuk memperkenalkan konsep mitigasi dan langkah penyelamatan diri saat terjadi bencana.
“Pembentukan budaya sadar bencana harus dimulai sejak dini agar generasi muda memiliki pola pikir siaga dan peduli lingkungan,” ujar Mujiono.
Melalui penguatan koordinasi lintas lembaga dan peningkatan kapasitas masyarakat, Banyuwangi menegaskan komitmennya dalam memperkecil dampak bencana yang mungkin terjadi selama musim penghujan.
“Ini adalah bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga keselamatan warga. Kerja sama yang solid adalah kunci untuk mewujudkan Banyuwangi yang lebih siap dan tangguh menghadapi bencana,” tutup Kombes Pol Rama Samtama Putra.
tim- Sgb.news id