SGB-News.id°PROBOLINGGO — Suasana di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kanigaran, Jumat pagi 8 Mei 2026, mendadak berbeda. Di tengah aktivitas pelayanan rutin, Kepala Kementerian Agama Kota Probolinggo, Didik Kurniawan, hadir langsung tanpa seremoni berlebihan maupun pengawalan protokoler yang kaku.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kehadiran orang nomor satu di lingkungan Kemenag Kota Probolinggo itu bukan untuk inspeksi atau agenda formal semata. Ia justru memilih duduk bersama calon pengantin yang sedang mengikuti bimbingan perkawinan di KUA Kanigaran.
Momen tersebut sontak menarik perhatian pegawai dan masyarakat yang berada di lokasi. Pasalnya, jarang terlihat pimpinan instansi turun langsung mendampingi proses pembinaan calon pengantin di tingkat kecamatan.
Di ruang bimbingan, Didik Kurniawan terlihat akrab berdiskusi dengan pasangan calon pengantin, salah satunya Ilham, warga asal Banyuwangi. Dengan suasana santai namun serius, ia memberikan berbagai arahan terkait kehidupan rumah tangga.
“Pernikahan itu bukan sekadar urusan administrasi dan tanda tangan buku nikah. Yang paling penting adalah kesiapan mental, tanggung jawab, dan pondasi spiritual dalam membangun keluarga,” ujarnya.
Dalam pembinaan tersebut, Kepala Kemenag menekankan pentingnya ketahanan keluarga, kemampuan menyelesaikan konflik rumah tangga sejak awal pernikahan, hingga penerapan nilai moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari.
Tak hanya itu, para calon pengantin juga diberikan edukasi terkait layanan digital Kementerian Agama yang kini semakin mudah diakses masyarakat. Pendekatan yang digunakan pun tidak kaku. Sesekali suasana mencair dengan candaan ringan yang membuat para peserta lebih nyaman mengikuti materi.
Kepala KUA Kanigaran, Anwar Sadad, mengaku mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, kehadiran langsung Kepala Kemenag menjadi motivasi tersendiri bagi jajaran di tingkat bawah.
“Kami tentu bangga. Kehadiran beliau menunjukkan perhatian nyata terhadap pembinaan keluarga sejak awal. Ini bukan sekadar formalitas pelayanan, tetapi bentuk pengayoman langsung kepada masyarakat,” ujarnya.
Sejumlah penyuluh agama dan staf KUA yang hadir juga menilai langkah tersebut sebagai simbol perubahan birokrasi yang lebih dekat dan humanis. Tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi hadir langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Melalui kegiatan itu, Kementerian Agama Kota Probolinggo memperlihatkan bahwa pembinaan keluarga tidak cukup hanya melalui dokumen administrasi, melainkan juga melalui pendekatan personal dan edukatif kepada masyarakat.
Di tengah meningkatnya tantangan rumah tangga modern, langkah “turun gunung” seperti ini terasa sederhana, namun dampaknya bisa panjang. Karena kadang, nasihat sebelum akad jauh lebih murah daripada drama setelah cicilan rumah mulai datang bersamaan dengan harga cabai.
AR