SGB-News.id°PROBOLINGGO – Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) terus memperkuat upaya menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui program Sinergi Aksi Holistik Berbasis Area Terpadu Untuk Anak Tidak Sekolah (Sahabat ATS). Kegiatan kali ini digelar di Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kamis (7/5).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Program tersebut menjadi langkah nyata pemerintah daerah dalam memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan, baik melalui jalur formal maupun nonformal.
Kepala Disdikbud Kota Probolinggo, Siti Romlah, menegaskan bahwa program Sahabat ATS merupakan implementasi dari amanat wajib belajar 13 tahun. Menurutnya, pemerintah tidak ingin ada anak yang kehilangan akses pendidikan hanya karena faktor ekonomi, lingkungan, maupun persoalan sosial lainnya.
“Program ini menjadi upaya bersama untuk mengembalikan Anak Tidak Sekolah agar kembali mendapatkan layanan pendidikan, baik formal maupun nonformal,” ujarnya dalam laporan kegiatan.
Ia menjelaskan, keberadaan program Sahabat ATS juga diarahkan untuk meningkatkan Angka Partisipasi Sekolah (APS), Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), serta Harapan Lama Sekolah (HLS). Seluruh indikator tersebut dinilai memiliki pengaruh besar terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Probolinggo.
“Kami ingin pendidikan benar-benar menjangkau semua lapisan masyarakat. Karena pendidikan adalah pondasi masa depan daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Lurah Pilang Iwan Cahyono menyampaikan komitmennya untuk mendorong wilayahnya menuju Zero ATS. Berdasarkan data yang dimiliki pihak kelurahan, saat ini terdapat sekitar 30 anak usia SMP yang tidak sekolah, dengan berbagai kategori, termasuk anak putus sekolah (drop out).
Ia menegaskan bahwa pemerintah kelurahan tidak akan tinggal diam terhadap persoalan tersebut. Pendekatan persuasif kepada keluarga, pendampingan, hingga koordinasi lintas sektor akan terus dilakukan agar anak-anak tersebut bisa kembali mengenyam pendidikan.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas bersama. Kalau anak-anak ini kembali sekolah, maka masa depan mereka juga ikut terselamatkan,” ungkapnya.
Program Sahabat ATS sendiri mendapat perhatian karena tidak hanya fokus pada pendataan, tetapi juga menghadirkan pendekatan langsung kepada masyarakat. Pemerintah mencoba memetakan akar persoalan yang menyebabkan anak berhenti sekolah, mulai dari faktor ekonomi, lingkungan, hingga minimnya motivasi belajar.
Langkah tersebut dinilai penting agar penanganan ATS tidak sekadar seremonial, melainkan benar-benar mampu menekan angka putus sekolah di Kota Probolinggo.
Ferdi