Dok: Screenshot
SGB°JEMBER – Di momentum Hari lahir pancasila terlihat dikalender berwarna merah tepatnya pada 1 Juni 2026,Narasi mainstream mulai berserakan di jagat maya yang menyebut Pancasila murni “lahir dan digali dari bumi pertiwi” mendapatkan perspektif kritis dari akademisi dan pakar hukum, Dr. Aries Harianto, S.H., M.H., C.Med. Ketua Pakar Hukum Unej dan Ketua Dewan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI),Jember. Menurutnya, dalam rumus perubahan global, tidak pernah ada substansi yang benar-benar “asli” atau tulen tanpa campuran.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Dr. Aries menilai bahwa klaim keaslian mutlak, baik dalam identitas manusia maupun ideologi negara, hanyalah sebuah konsep administratif dan ilusi historis.
Dalam pandangannya, Dr. Aries mencontohkan klaim identitas etnis atau individu yang sering kali menafikan realitas antropologis. Ia menegaskan bahwa secara empiris, tidak ada manusia yang memiliki DNA tunggal yang sepenuhnya murni.
“Seorang X sangat mungkin di dalamnya melekat beragam DNA China, Arab, India dan sebagainya. Semua terfragmentasi secara terukur. Jadi ‘asli’ hanya konsep administrasi,” ujar Dr. Aries.
Hal yang sama berlaku dalam dunia akademis dan kompetensi keilmuan. Pengetahuan yang dimiliki seorang terpelajar hari ini bukanlah kebenaran yang jatuh dari langit, melainkan akumulasi transfer ilmu dari guru ke guru, serta hasil riset kolektif yang dikelola oleh lembaga pendidikan. Konsep orisinalitas mutlak, menurutnya, adalah hakikat yang tidak pernah ada.
Beralih pada ideologi negara, Dr. Aries membedah slogan historis mengenai asal-usul Pancasila. Ia berargumen bahwa frasa “Pancasila digali dari bumi pertiwi” secara tidak langsung justru menegasikan proses intelektual yang melatarbelakanginya. Pancasila tidak tercipta dari ruang hampa (dari tidak ada menjadi ada).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Pancasila adalah sebuah mahakarya formulasi pemikiran. Dasar negara ini lahir dari titik temu antara narasi historis politik dunia yang kemudian dikoherensikan secara apik dengan konteks politik lokal menjelang lahirnya NKRI.
“Di sinilah kecerdasan para pendiri Republik ini untuk mengkompilasi. Lahirlah PANCASILA,” tandasya di akhir ulasan.
Melalui pandangan ini, Dr. Aries mengajak masyarakat untuk melihat Pancasila bukan sebagai produk isolasi budaya, melainkan sebagai bukti kejeniusan para Founding Fathers dalam meracik nilai-nilai global menjadi fondasi lokal yang kokoh.