SGB-News.id | Probolinggo – Malam 1 Muharram 1448 Hijriah, sekretariat Aliansi Wartawan Probolinggo Raya (AWPR) tidak sepi. Puluhan jurnalis anggota AWPR berkumpul untuk tasyakuran sederhana, Senin 15 Juni 2026.
Tidak ada panggung megah. Hanya sajadah, mikrofon kecil, dan satu tumpeng di tengah ruangan. Itu cukup untuk menandai awal tahun baru Islam.
Acara dipandu Ketua AWPR Fahrul Mozza. Agenda utama: doa bersama, potong tumpeng, lalu obrolan terbuka antaranggota.
Doa dipanjatkan lebih dulu. Isinya permohonan agar AWPR diberi kekuatan menjaga marwah profesi di tengah derasnya hoaks.
“Di tahun baru ini kami minta diberi kejernihan berpikir. Wartawan harus jadi penjernih, bukan pengacau informasi,” ujar Fahrul saat memimpin doa.
Setelah amin terakhir, tumpeng setinggi satu meter dipotong. Tradisi itu dipilih sebagai penanda syukur dan harapan AWPR naik kelas.
Potongan tumpeng pertama diberikan ke Penasehat AWPR Hariadi. Maknanya jelas: senior dihargai, junior diberi ruang belajar.
Fahrul kemudian menyampaikan refleksi singkat 1 Muharram. Ia menyebut hijrah bukan pindah kota, tapi pindah sikap ke arah lebih baik.
“Semoga di tahun baru Islam ini seluruh anggota AWPR dapat semakin meningkatkan kebersamaan, profesionalisme, serta terus berkontribusi dalam menyajikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya di depan anggota.
Ia menggarisbawahi kata “akurat”. Di era kecepatan, menurutnya, wartawan AWPR harus tetap menomorsatukan verifikasi data.
Penasehat AWPR Hariadi mengambil giliran bicara. Pesannya lebih personal: jaga teman, jaga organisasi.
“Saya berharap kepada seluruh anggota AWPR agar semakin kompak, saling mendukung, dan menjaga kebersamaan. Dengan kekompakan, organisasi akan semakin kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan ke depan,” tutur Hariadi.
Ia mencontohkan kasus wartawan yang diterpa masalah hukum. Kalau kompak, kata dia, anggota lain bisa langsung turun membantu.
Usai sambutan, suasana berubah cair. Tumpeng dibagi, anggota duduk lesehan sambil ngobrol soal rencana kerja 1448 H.
Topik yang muncul: pelatihan fact-checking, pendataan UMKM binaan, sampai rencana kunjungan ke desa-desa pelosok Probolinggo.
Anggota muda AWPR aktif bertanya. Mereka ingin tahu cara senior membangun jejaring narasumber tanpa melanggar kode etik.
Tidak ada target muluk yang dipasang malam itu. Pengurus hanya ingin setiap anggota pulang dengan semangat baru.
Tasyakuran ditutup tanpa seremoni panjang. Tapi komitmennya jelas: AWPR melangkah di tahun baru Hijriah dengan doa, tumpeng, dan janji menjaga akurasi berita. (Arini)