Dok: Ilustrasi
SGB-NEWS°LUMAJANG – Di Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, sosok Tiani adalah sebuah institusi berjalan. Jika Anda melihat seorang pria paruh baya melangkah santai menyusuri pematang sawah dengan sarung pesak, kaos putih polos, dan kopyah hitam yang setia bertengger di kepala, itulah dia.
Ia bukanlah atlet yang sedang mengejar target detak jantung. Ia adalah Tiani sang tuan tanah yang “olahraganya” adalah denyut nadi perekonomian desa.
Setiap pagi, Tiani tidak mencari keringat. Ia mencari kepastian. Dengan langkah tenang namun pasti, ia berkeliling meninjau sapi-sapi yang ia “gaduhkan” (sistem bagi hasil dalam pemeliharaan ternak), kepada warga desa.
Bagi Tiani, sapi bukan sekadar aset yang mati; itu adalah modal kepercayaan.
Ia akan berhenti di depan kandang, memperhatikan kondisi fisik hewan ternaknya dengan mata seorang pakar. Jika penggaduh sapinya dianggap tak lagi mampu merawat dengan layak, Tiani tidak lantas menarik sapi tersebut dengan amarah. Ia justru akan melangkah lebih jauh, berjalan mencari warga lain yang dinilai lebih mampu untuk mengelola amanahnya.
Ini bukan sekadar manajemen peternakan. Ini adalah manajemen kemanusiaan.
Di tengah dunia yang serba transaksional, di mana aset seringkali dijual begitu saja demi keuntungan instan, Tiani memegang prinsip yang mungkin dianggap kuno oleh sebagian orang: “Sapi tidak untuk dijual.”
Hingga ajal menjemputnya, Tiani telah mengumpulkan ratusan sapi. Namun, ia tidak pernah sekalipun melepas kepemilikan aset tersebut ke pasar hanya untuk menumpuk angka di buku tabungan. Ia menganggap ternak-ternaknya adalah warisan hidup.
Puncaknya adalah saat Tiani wafat. Di sinilah letak anomali kebaikan yang sulit dicari tandingannya. Harta yang dikumpulkannya selama puluhan tahun bukanlah untuk dinikmati sendiri oleh keluarganya saja. Ia justru memastikan bahwa keponakan, saudara, hingga kerabat jauh merasakan buah dari ketekunannya.
Melihat sosok Tiani, kita dipaksa untuk merenung ulang tentang definisi kekayaan.
Seringkali kita terjebak dalam paradigma bahwa sukses adalah seberapa banyak kita mampu mengakumulasi harta untuk diri sendiri dan keluarga inti. Namun, Tiani dari warga Lumajang mengajarkan bahwa kekayaan sejati justru terletak pada seberapa jauh kebermanfaatan itu menjalar ke luar lingkaran keluarga terdekat.
Gaya hidupnya yang sangat sederhana hanya sarung dan kaos putih adalah pernyataan sikap bahwa ia tidak hidup untuk konsumsi kemewahan. Kopyah hitam yang ia kenakan seolah menjadi mahkota dari integritasnya. Ia adalah antitesis dari sifat serakah. Ia membuktikan bahwa menjadi “tuan tanah” tidak harus menjadikan seseorang elitis atau kikir.
Tiani meninggalkan pelajaran besar bagi masyarakat Lumajang: bahwa harta yang paling abadi bukanlah yang disimpan di dalam brankas, melainkan yang disebarkan melalui tangan-tangan yang dipercaya. Sapi-sapi itu mungkin sudah berpindah tangan, namun jejak kebaikan dan pola distribusi kesejahteraan yang ia bangun akan menjadi legasi yang jauh lebih berharga daripada harga pasar ternak mana pun.
Tiani telah pergi, namun cara dia memanusiakan manusia melalui seekor sapi akan selalu diingat sebagai bentuk kedermawanan yang paling praktis, membumi, dan bermartabat.
Apakah menurut Anda sosok seperti Tiani masih bisa ditemukan di era digital saat ini, di mana banyak orang lebih memilih berinvestasi pada aset finansial daripada aset sosial seperti ini?