SURABAYA, SGB-NEWS – Di era ketika satu kesalahan aparat bisa viral dalam hitungan menit, sementara ribuan tugas yang berhasil diselesaikan sering berlalu tanpa perhatian, sosok Aipda Sigit Dwi Susanto atau yang dikenal sebagai “Hellboy” memilih tetap bekerja dalam senyap.
Bukan tanpa alasan. Polisi yang bertugas di jajaran reserse itu memahami bahwa kritik, cibiran, bahkan hujatan merupakan bagian dari risiko profesi. Namun baginya, ada hal yang lebih penting daripada menjaga citra diri, yakni memastikan masyarakat tetap merasa aman. Pernyataan bahwa “hujatan boleh menghantam, tapi keamanan rakyat tidak boleh tumbang” menjadi cerminan cara pandangnya dalam menjalankan tugas.
Di tengah derasnya opini publik yang sering terbelah antara pro dan kontra terhadap institusi kepolisian, Hellboy memilih menjawab dengan tindakan. Saat sebagian orang sibuk berdebat di media sosial, ia dan rekan-rekannya berada di lapangan menghadapi pelaku kriminal, mengejar pelaku kejahatan, hingga mempertaruhkan keselamatan demi melindungi warga.
Pengabdian seperti ini jarang menjadi sorotan utama. Publik lebih sering melihat hasil akhirnya daripada risiko yang dihadapi. Padahal, di balik seragam yang dikenakan, ada manusia biasa yang juga memiliki keluarga, rasa takut, dan harapan untuk pulang dengan selamat setelah bertugas.
Kisah Hellboy menjadi pengingat bahwa keamanan yang dinikmati masyarakat setiap hari bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja. Ada petugas yang berjaga ketika sebagian besar warga sedang beristirahat. Ada aparat yang tetap turun ke lapangan saat cuaca buruk, konflik sosial, maupun ancaman kriminalitas muncul.
Di sisi lain, kritik dari masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam demokrasi. Kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak yang harus dihormati. Namun kritik yang membangun dan pengawasan publik akan jauh lebih bernilai ketika diiringi penghargaan terhadap mereka yang bekerja dengan sungguh-sungguh demi kepentingan masyarakat.
Sosok Hellboy menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung besar. Kadang cukup dengan tetap menjalankan tugas secara konsisten, meski diterpa kritik dan penilaian negatif.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan aparat yang kuat menghadapi pelaku kejahatan. Masyarakat juga membutuhkan aparat yang kuat menghadapi tekanan, hujatan, dan berbagai prasangka tanpa kehilangan semangat untuk melayani.
Ferdi