SGB-News.id°PROBOLINGGO – Momentum satu tahun kepemimpinan Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, Sp.OG (K)., M.Kes, dan Wakil Wali Kota Hj. Ina Dwi Lestari, S.AP, M.M, ditandai dengan peluncuran resmi city branding “Probolinggo Kota Bersolek”, Selasa malam (31/3/2026).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Peluncuran ini bukan sekadar seremoni peringatan satu tahun masa jabatan, melainkan penegasan arah pembangunan kota yang diklaim berbasis data, terukur, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Dalam sambutannya, Wali Kota Aminuddin menyampaikan bahwa selama satu tahun memimpin, pihaknya terlebih dahulu memetakan persoalan riil kota sebelum mengeksekusi program.
“Di awal kepemimpinan, kami tidak langsung bergerak tanpa arah. Kami kumpulkan data, kami petakan masalah, baru kemudian kami jalankan program,” tegasnya.
Selama satu tahun kepemimpinan, Pemerintah Kota Probolinggo mencatatkan 53 penghargaan di tingkat regional maupun nasional. Capaian ini dijadikan dasar bahwa konsep “Bersolek” bukan sekadar jargon.
City branding tersebut mencakup delapan pilar utama: Bersih, Elok, Ramah, Sejahtera, Organik, Lestari, Edukatif, dan Kreatif.
Delapan indikator ini menjadi kerangka pembangunan lintas sektor, mulai dari lingkungan, kesehatan, ekonomi, hingga tata kelola pemerintahan.
Aminuddin secara terbuka mengungkap kondisi awal kota saat dirinya mulai menjabat, termasuk pencemaran enam anak sungai yang terkontaminasi E. coli dan mikroplastik.
“Faktanya, kita ini sempat hidup dalam kondisi air yang tercemar. Itu tidak kami tutupi, justru kami jadikan dasar perbaikan,” ujarnya.
Melalui program GEMA Pro-KASIH, pemerintah mengintervensi persoalan lingkungan secara sistematis. Hasilnya, Kota Probolinggo berhasil meraih predikat Kota Sehat dan penghargaan Adipura sektor kesehatan.
Dalam sektor kesehatan, inovasi dilakukan melalui pemantauan ibu hamil berbasis teknologi. Program ini terbukti menekan angka kematian ibu hamil secara signifikan.
“Dari sebelumnya lebih dari delapan kasus, turun menjadi dua kasus di tahun 2025,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga menghadirkan klinik lansia dan program pencegahan penyakit berbasis lingkungan seperti lavenderisasi untuk menekan penyebaran demam berdarah.
Dari sisi ekonomi, pertumbuhan Kota Probolinggo tercatat mencapai 5,85 persen, dan tetap berada di posisi tiga besar di Jawa Timur meski sedikit turun menjadi 5,65 persen.
Tak hanya itu, tingkat ketimpangan juga menurun, ditandai dengan penurunan Gini Ratio dari 3,5 menjadi 2,5.
Namun, Wali Kota juga mengingatkan adanya potensi risiko dari tingginya kredit perbankan yang mencapai 40 persen.
“Kalau tidak dikendalikan, ini bisa menjadi bom waktu berupa kredit macet. Jadi jangan euforia berlebihan,” tegasnya.
Peluncuran city branding dalam momentum satu tahun kepemimpinan ini menjadi titik evaluasi sekaligus pijakan ke depan. Pemerintah menegaskan bahwa “Bersolek” bukan sekadar citra, melainkan sistem kerja yang harus terus dibuktikan.
Dengan mengedepankan potensi lokal dan mengurangi ketergantungan pada pola konsumtif, Pemkot Probolinggo menargetkan pembangunan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Pesannya jelas: satu tahun pertama adalah fondasi. Tahun-tahun berikutnya adalah pembuktian.
Kalau tidak konsisten, branding hanya jadi spanduk mahal. Kalau serius, ini bisa jadi arah perubahan kota.
Ferdi