Dok: Karikatur AI
JEMBER|Sgb-news.id — Momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei 2026 diwarnai kritik super pedas yang menampar wajah dunia akademik dan perpolitikan tanah air. Pakar Hukum Universitas Jember (Unej) sekaligus Ketua Dewan Pakar Indonesia Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) – Jember, Dr. Aries Harianto, S.H., M.H., C.Med, membongkar borok matinya nalar kritis mahasiswa serta mandulnya partai politik yang mengklaim diri sebagai pilar demokrasi.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Ia menyebut Indonesia hari ini sedang mengalami kemunduran serius, bergerak di bawah bayang-bayang keserakahan oligarki tanpa arah yang jelas.
Dr. Aries memberikan sorotan tajam pada matinya pergerakan di dalam perguruan tinggi. Kampus yang dulunya merupakan mesin penggerak perubahan, kini dinilai tak lebih dari sekadar tempat berkumpulnya massa yang apatis dan kehilangan taji.
“Kampus-kampus tempat elit non-strategis senyap. Mahasiswa dan dosennya seolah kehilangan energi, bareng-bareng menguap. Loyo hilang semangat,” cecar Dr. Aries tanpa basa-basi.
Ia juga mempertanyakan hilangnya taji para aktivis mahasiswa yang kini terkesan diam seribu bahasa. “Para aktifis kampus tidak menunjukkan daya tanggap. Jangan-jangan mereka sudah masuk perangkap,” ketusnya, menyiratkan adanya pembungkaman sistematis atau kenyamanan semu yang menjerat para mahasiswa.
Kritik Dr. Aries tak berhenti di gerbang kampus saja. Ia mengingatkan perihal parpol dan parlemen, termasuk ormas yang selama ini kehilangan sensitifitas. Parpol tengah dipertanyakan komitmen dan konsistensinya. Bahkan kini melembaga menjadi supremasi parlemen yang mengubur supremasi hukum.
Partai Politik Mandul: Dipertanyakan perannya sebagai pilar demokrasi yang mendadak cuek saat konstitusi ditinggal pergi.
Jika kenyataan demikian terus berlangsung, maka Indonesia Emas tak lebih sebatas imaginasi. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa slogan Indonesia Emas identik dengan rakyat was-was dan terus cemas. Apalagi dolar yang terus naik di hadapan rupiah.
Menurutnya, objektivitas bernegara telah mati. Tepuk tangan dan dukungan publik kini tidak lagi lahir dari ketulusan, melainkan hasil mobilisasi dan rekayasa algoritma.
Secara blak-blakan, Dr. Aries mendiagnosis para elit politik saat ini tengah terserang virus NPD (Narcissistic Personality Disorder) atau endemi gila validasi. Penguasa sibuk menebar pesona dan memamerkan klaim kesuksesan semu di media sosial, sementara realitas di akar rumput justru hancur lebur.
Ia membeberkan daftar kontradiksi rezim hari ini dengan sangat telanjang:
Kritik Dikriminalisasi: Siapapun yang berseberangan dicap sebagai musuh, dibungkam, dan langsung dijebloskan ke penjara.
Korupsi Dipelihara: Slogan pemberantasan korupsi hanya menjadi jualan politik, padahal praktik KKN justru dikelola secara rapi di lingkaran kekuasaan.
Nasib Guru Terlantar: Hari Pendidikan Nasional dilewati begitu saja tanpa nurani, meninggalkan nasib ribuan guru tanpa kepastian status.
Plot Twist Menohok: “Bukan Soal Babi, Ini Soal Oligarki!”
Di akhir opininya, Dr. Aries menggunakan analogi tajam mengenai konflik agraria di Papua, di mana simbol budaya dan spiritualitas mereka (babi dan hutan adat) digulung habis oleh keserakahan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Ketika analogi ini memicu sentimen religius dari kaum mayoritas yang mempermasalahkan hukum “babi”, Dr. Aries langsung memberikan jawaban yang skakmat:
“Emang saya bicara soal babi? Saya bicara soal keinsyafan bernegara anak-anak negeri. Anak-anak yang tak berdaya melawan oligarki. Lusuhnya kain bendera berubah rupa menjadi proyek industri. Kekuasaan ekonomi politik tanpa hati dan eksploitasi SDA yang tak bisa berhenti!”
Pernyataan Dr. Aries menjadi alarm bahaya paling keras: Indonesia sedang berjalan tanpa lentera, Pancasila hanya menjadi pajangan dinding, dan Konstitusi telah mati karena sekadar jadi bahan hafalan mata kuliah.
Diwaktu yang berbeda Dr. Aries juga menyentil Peran Pers sebagai pilar keempat Demokrasi dan menjadi agen budaya kemana arah peradaban itu dibawa.
“Pers itu pilar keempat demokrasi tugasnya jelas dia menegakkan supermasi hukum membangun sendi sendi demokrasi menjaga hak asasi manusia dan pers itu agen budaya kemana arah peradaban itu dibangun itu tergantung pers,” pesanya ke wartawan sgb-news.id (ADM-SOF)