PROBOLINGGO | SGB-News.id – Dampak banjir yang terjadi dalam dua tahun terakhir di sejumlah wilayah Kabupaten Probolinggo tidak lagi sekadar genangan musiman. Warga kini mengeluhkan kerugian nyata, mulai dari gagal panen hingga kondisi ternak yang menurun akibat lingkungan yang terus tergenang.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dari pantauan SGB-NEWS di lapangan, beberapa lahan pertanian yang sebelumnya produktif kini mengalami penurunan hasil secara signifikan. Tanaman padi yang baru memasuki masa pertumbuhan terendam berhari-hari hingga akhirnya membusuk.
“Biasanya air lewat saja. Sekarang menggenang lama. Padi jadi kuning lalu mati,” ujar seorang petani setempat.
Sejumlah petani menyebut dalam satu musim terakhir mereka mengalami gagal panen hampir total. Biaya tanam, pupuk, hingga tenaga kerja sudah keluar, namun hasil tidak sebanding bahkan nihil.
Selain sektor pertanian, peternak juga merasakan dampak serupa. Kandang yang terdampak genangan menyebabkan kondisi ternak, terutama kambing dan sapi, menjadi kurang sehat.
“Lantai kandang lembap terus. Sapi jadi mudah sakit, nafsu makan turun,” kata salah satu peternak.
Menurut warga, genangan yang bertahan lama menciptakan lingkungan yang tidak higienis. Air bercampur lumpur dan limbah mempercepat penyebaran penyakit pada ternak. Beberapa peternak mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan.
Warga menduga perubahan pola aliran air menjadi salah satu faktor meningkatnya genangan dalam dua tahun terakhir, terutama setelah pembangunan ruas Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi yang melintasi wilayah Kabupaten Probolinggo.
Mereka menilai air yang sebelumnya menyebar dan meresap di area persawahan kini lebih terpusat dan langsung dialirkan ke sungai melalui sistem saluran tertentu. Sementara kapasitas sungai dinilai tidak mampu menampung lonjakan debit air secara bersamaan.
Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pengelola proyek tol maupun instansi teknis terkait mengenai keterkaitan langsung antara pembangunan tersebut dengan meningkatnya genangan.
Sejumlah dinas di wilayah Probolinggo yang ditemui SGB-NEWS sebelumnya menyampaikan bahwa perubahan tata ruang dan sistem drainase memang dapat memengaruhi pola aliran air, meski faktor lain seperti curah hujan dan sedimentasi sungai juga turut berperan.
Warga berharap ada evaluasi menyeluruh yang melibatkan pemerintah daerah dan pihak terkait. Bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar soal genangan, tetapi tentang keberlangsungan ekonomi keluarga.
“Kalau panen gagal dan ternak sakit, kami hidup dari apa?” ujar seorang petani dengan nada lirih.
SGB-NEWS akan terus menelusuri persoalan ini dan mengupayakan konfirmasi lanjutan dari pihak-pihak terkait guna memastikan solusi konkret bagi masyarakat terdampak.
Tim-Redaksi