Sgb-news.id°PROBOLINGGO,-Seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) Kota Probolinggo Tahun 2026 resmi berakhir. Penutupan kegiatan yang berlangsung di Puri Manggala Bhakti, Kamis (16/4), dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Probolinggo, Ina Dwi Lestari.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Bukan sekadar penutup rangkaian kegiatan, momen ini menjadi titik refleksi atas proses panjang yang telah dilalui ratusan pelajar. Dari awalnya 295 peserta yang mendaftar, kini hanya tersisa 107 orang yang berhasil melewati seluruh tahapan seleksi.
Dalam arahannya, Wawali Ina menegaskan bahwa Capaska bukan ajang mencari barisan paling rapi semata. Ia menyoroti nilai yang lebih dalam yakni pembentukan karakter.
“Yang sedang kalian bangun bukan hanya kemampuan fisik, tetapi mental dan kedisiplinan. Itu yang akan menentukan masa depan kalian,” tegasnya.
Menurutnya, pengalaman selama seleksi merupakan investasi jangka panjang yang tidak selalu terlihat hasilnya secara instan, tetapi akan terasa dalam perjalanan hidup ke depan. Ia juga mengingatkan peserta untuk tidak berhenti pada capaian saat ini.
“Kalau hanya puas di tingkat kota, itu terlalu kecil. Targetkan provinsi, bahkan nasional. Jangan cepat merasa cukup,” ujarnya lugas.
Data dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Probolinggo menunjukkan persaingan seleksi tahun ini cukup ketat. Dari 154 peserta putra dan 141 putri, hanya sebagian kecil yang mampu bertahan hingga tahap akhir.
Kepala Bakesbangpol, M. Sonhadji, menjelaskan bahwa proses selanjutnya akan memasuki tahap pemeringkatan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Dari total 107 peserta, akan dipilih 74 orang terbaik dengan komposisi 43 putra dan 33 putri.
“Ini belum akhir. Justru ini fase penentuan. Siapa yang benar-benar layak akan terlihat di tahap ini,” katanya.
Ia menambahkan, seleksi Capaska bukan sekadar kebutuhan upacara kenegaraan, melainkan bagian dari strategi pembinaan generasi muda. Delapan tahapan seleksi yang diterapkan dirancang untuk menyaring peserta secara menyeluruh, mulai dari aspek kesehatan, kemampuan fisik, hingga wawasan kebangsaan.
Sonhadji juga menekankan bahwa target Kota Probolinggo tidak berhenti di level lokal. Pihaknya membuka peluang selebar-lebarnya bagi peserta terbaik untuk melaju ke tingkat Provinsi Jawa Timur hingga nasional.
“Kalau hanya kuat fisik tapi lemah karakter, tidak akan bertahan. Yang dicari adalah keseimbangan,” tandasnya.
Penutupan seleksi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil. Bagi yang lolos, tantangan berikutnya sudah menunggu. Sementara bagi yang belum berhasil, pengalaman ini tetap menjadi bekal berharga yang tidak bisa dibeli di ruang kelas mana pun.
Di titik ini, Capaska bukan lagi soal siapa yang berdiri di lapangan saat upacara. Tapi siapa yang siap berdiri tegak menghadapi masa depan.
Ferdi