SGB-News.id°PROBOLINGGO — Proses panjang seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaskibraka) Kabupaten Probolinggo tahun 2026 akhirnya mencapai titik akhir. Dari ratusan peserta yang mendaftar, hanya 76 pelajar terbaik yang berhasil mengamankan posisi sebagai calon anggota Paskibraka tingkat kabupaten. Jumat, 17 April 2026.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Seleksi tahun ini tidak bisa dibilang santai. Sebanyak 352 pelajar dari berbagai sekolah tingkat SLTA, MA, dan SMK se-Kabupaten Probolinggo langsung bersaing sejak pendaftaran dibuka pada awal Maret 2026.
Angka itu kemudian menyusut tajam setelah melewati verifikasi administrasi, menyisakan 239 peserta yang berhak lanjut ke tahap berikutnya.
Ujian berikutnya bukan sekadar formalitas. Tes Wawasan Kebangsaan dan Tes Intelegensia Umum menjadi filter awal yang menguji bukan hanya kecerdasan, tapi juga pemahaman ideologi dan ketahanan mental peserta. Dari sini, hanya peserta dengan kapasitas terbaik yang mampu bertahan.
Memasuki tahap lanjutan yang digelar pada pertengahan April di Balai Diklat BKPSDM Dringu, seleksi berubah menjadi arena adu fisik, disiplin, dan konsistensi. Sistem gugur diterapkan secara ketat, memangkas jumlah peserta secara bertahap hingga akhirnya tersaring 76 nama yang dinyatakan layak.
Kepala Bakesbangpol Kabupaten Probolinggo, Hari Kriswanto, menegaskan bahwa proses seleksi berlangsung bersih tanpa kompromi. Ia memastikan tidak ada ruang bagi praktik titipan atau intervensi pihak manapun.
“Semua murni hasil kemampuan. Kalau tidak lolos, ya memang belum cukup. Kalau lolos, berarti memang layak,” ujarnya lugas.
Dari 76 peserta tersebut, panitia menetapkan empat orang terbaik, terdiri dari dua putra dan dua putri, untuk mewakili Kabupaten Probolinggo ke tingkat Provinsi Jawa Timur. Tahap ini menjadi pintu berikutnya menuju seleksi nasional, yang tentu jauh lebih kompetitif.
Pemerintah daerah juga terlihat tidak setengah-setengah dalam mendukung program ini. Seluruh proses seleksi dipastikan bebas biaya. Bagi peserta yang lolos, fasilitas lengkap disiapkan mulai dari seragam, atribut, hingga sepatu. Bahkan, bantuan transportasi sebesar Rp750.000 diberikan langsung melalui rekening masing-masing peserta.
Langkah ini bukan sekadar formalitas anggaran, tapi sinyal bahwa pemerintah serius membangun generasi muda yang disiplin dan berkarakter.
Seleksi Capaskibraka sendiri bukan hanya soal siapa yang berdiri di tiang bendera saat upacara. Lebih dari itu, ini adalah proses pembentukan mental, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Mereka yang lolos bukan hanya mewakili sekolah, tetapi membawa nama daerah dengan standar yang lebih tinggi.
Sekarang pertanyaannya sederhana: apakah wakil Probolinggo mampu tembus ke level nasional, atau berhenti di provinsi. Jawabannya tergantung satu hal konsistensi latihan dan mental bertanding. Tanpa itu, seleksi ketat ini cuma jadi cerita angka.
Ferdi