PROBOLINGGO, SGB-NEWS – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Probolinggo terus memperkuat upaya pencegahan radikalisme dan penyebaran paham intoleran melalui kegiatan Silaturahmi Wawasan Kebangsaan dan Dialog Publik yang digelar di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa, Kamis (11/6/2026).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kegiatan yang melibatkan unsur Forkopimda, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda hingga Tim Penggerak PKK Kabupaten Probolinggo tersebut menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat persatuan serta meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman radikalisme dan penyalahgunaan media sosial.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Probolinggo, Hari Kriswanto, S.Sos, menegaskan bahwa tantangan kebangsaan saat ini tidak hanya datang dari dunia nyata, tetapi juga berkembang pesat melalui ruang digital yang semakin sulit diawasi.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah membuka peluang bagi berbagai pihak untuk menyebarkan paham radikal, intoleransi, hingga ujaran kebencian yang dapat mengancam persatuan bangsa apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Kegiatan ini menjadi sarana edukasi sekaligus penguatan wawasan kebangsaan bagi seluruh elemen masyarakat agar mampu mengenali, mencegah, dan menangkal berbagai bentuk ancaman yang dapat mengganggu keutuhan NKRI,” ujarnya.
Dalam dialog tersebut, narasumber dari Satgaswil Jawa Timur Densus 88 Antiteror Polri memaparkan bahwa pola penyebaran radikalisme kini mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya lebih banyak menyasar kelompok dewasa, saat ini generasi muda dan anak-anak sekolah menjadi target utama propaganda kelompok radikal melalui media sosial dan platform digital.
Karena itu, peran pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga organisasi perempuan dinilai sangat penting dalam membangun sistem deteksi dini di lingkungan masing-masing.
Berdasarkan materi yang disampaikan, terdapat tiga karakteristik utama yang kerap muncul pada individu atau kelompok yang mulai terpapar paham radikal, yakni bersikap kaku dalam memahami ajaran agama, bersifat eksklusif dengan menutup diri dari lingkungan sosial, serta menunjukkan sikap intoleran terhadap perbedaan pandangan.
Selain itu, terdapat empat faktor utama yang memicu berkembangnya radikalisme, yaitu faktor ideologi atau agama, faktor sosial, faktor politik, dan faktor teknologi yang memanfaatkan media digital sebagai sarana penyebaran propaganda.
Dalam forum tersebut, Bakesbangpol juga menyoroti pentingnya literasi digital sebagai benteng pertahanan masyarakat menghadapi derasnya arus informasi di media sosial.
Peserta diberikan pemahaman mengenai fenomena media sosial yang memiliki dua sisi. Di satu sisi menjadi sarana komunikasi yang efektif dan memperluas akses informasi, namun di sisi lain dapat menjadi ruang penyebaran hoaks, ujaran kebencian, provokasi hingga tindakan cyberbullying.
Ancaman cyberbullying menjadi salah satu perhatian serius karena berdampak langsung terhadap kondisi psikologis korban. Mulai dari stres, kecemasan, hilangnya rasa percaya diri hingga depresi yang dapat memengaruhi kehidupan sosial dan produktivitas seseorang.
Melalui kegiatan ini, Bakesbangpol Kabupaten Probolinggo juga mendorong penguatan peran keluarga sebagai garda terdepan pencegahan radikalisme. Penanaman nilai toleransi, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak serta penguatan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dinilai menjadi langkah penting untuk membangun ketahanan masyarakat dari tingkat keluarga.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo, Ning Marisa Juwita Sari, turut mengajak para kader PKK untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dengan mengedepankan semangat persatuan, toleransi dan literasi digital.
Melalui sinergi antara Bakesbangpol, Forkopimda, Densus 88, organisasi masyarakat dan seluruh elemen daerah, Pemerintah Kabupaten Probolinggo berharap upaya pencegahan radikalisme dapat berjalan lebih efektif serta mampu menciptakan masyarakat yang cerdas, toleran, dan memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk komitmen Bakesbangpol Kabupaten Probolinggo dalam menjaga kondusivitas daerah melalui pendekatan edukatif, preventif, dan partisipatif dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Fer/sol