PROBOLINGGO, SGB-NEWS – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Probolinggo menegaskan komitmennya sebagai garda terdepan dalam memperkuat wawasan kebangsaan, menjaga harmoni sosial, serta mencegah penyebaran paham radikalisme dan dampak negatif media sosial di tengah masyarakat.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Silaturahmi Wawasan Kebangsaan dan Dialog Publik yang digelar Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Probolinggo di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa, Kamis (11/6/2026). Kegiatan ini dihadiri unsur Forkopimda, kepala perangkat daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta jajaran pengurus TP PKK Kabupaten Probolinggo.
Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo, Ning Marisa Juwita Sari, SE., MM, tampil sebagai pemateri utama dengan membawakan materi bertajuk Peran Ketua TP PKK dalam Membangun Harmoni dan Memperkuat Wawasan Kebangsaan di Kabupaten Probolinggo.
Dalam paparannya, Ning Marisa menekankan bahwa keluarga merupakan benteng pertama dalam membangun karakter bangsa sekaligus menjadi tempat paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda.
Menurutnya, peran kader PKK yang menjangkau hingga tingkat desa dan dasawisma menjadi kekuatan besar dalam menjaga persatuan, toleransi, dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Probolinggo.
“Keluarga adalah fondasi utama. Melalui gerakan PKK, kita memiliki peran strategis untuk merajut harmoni, memperkuat wawasan kebangsaan, dan memastikan lingkungan tetap kondusif serta toleran,” ujar Ning Marisa di hadapan peserta.
Ia menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini tidak hanya berasal dari persoalan sosial di lingkungan sekitar, tetapi juga dari derasnya arus informasi di ruang digital yang berpotensi memengaruhi pola pikir generasi muda.
Karena itu, PKK didorong untuk terus aktif membangun ketahanan keluarga melalui pendidikan karakter, komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak, serta penguatan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Selain membahas wawasan kebangsaan, kegiatan tersebut juga menyoroti pentingnya pencegahan radikalisme yang dimulai dari lingkungan keluarga. Dalam materi yang disampaikan, terdapat tiga pilar utama pencegahan radikalisme, yaitu pendekatan keluarga melalui penanaman nilai toleransi sejak dini, pendidikan yang membangun pola pikir kritis terhadap informasi, serta literasi digital untuk menyaring berbagai bentuk provokasi di media sosial.
Langkah konkret yang dapat dilakukan keluarga antara lain memberikan pemahaman agama yang moderat, memperkenalkan nilai kebangsaan secara berkelanjutan, serta menciptakan komunikasi terbuka sehingga anak-anak memiliki ruang diskusi yang sehat bersama orang tua.
Sementara itu, narasumber dari Satgaswil Jawa Timur Densus 88 Antiteror Polri mengingatkan bahwa pola penyebaran paham radikalisme saat ini mengalami perubahan. Jika sebelumnya lebih banyak menyasar kelompok dewasa, kini propaganda radikal mulai menyentuh kalangan remaja bahkan anak-anak usia sekolah melalui berbagai platform digital.
Dalam dialog tersebut dijelaskan bahwa kelompok yang terpapar radikalisme umumnya memiliki tiga karakteristik utama, yaitu bersikap kaku dalam memahami ajaran agama, cenderung eksklusif dengan menutup diri dari lingkungan sosial, serta menunjukkan sikap intoleran terhadap kelompok lain yang berbeda pandangan.
Densus 88 juga memaparkan empat faktor yang dapat memicu berkembangnya radikalisme, yakni faktor ideologi atau agama, faktor sosial, faktor politik, dan faktor teknologi yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana penyebaran propaganda.
Selain radikalisme, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai bahaya cyberbullying yang saat ini semakin marak terjadi di media sosial. Dalam pemaparan materi disebutkan bahwa media sosial memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi menjadi sarana komunikasi yang efektif dan memperluas akses informasi, namun di sisi lain dapat menjadi ruang penyebaran ujaran kebencian, perundungan, dan provokasi.
Korban cyberbullying berpotensi mengalami stres akut, kecemasan berlebihan, penurunan rasa percaya diri, hingga depresi. Bahkan dalam kondisi tertentu dapat memunculkan kecenderungan menyakiti diri sendiri. Dampak jangka panjangnya meliputi trauma psikologis, menurunnya konsentrasi belajar maupun bekerja, serta kecenderungan mengisolasi diri dari kehidupan sosial.
Melalui kegiatan ini, TP PKK Kabupaten Probolinggo diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam menyebarluaskan nilai-nilai kebangsaan dan literasi digital hingga ke tingkat keluarga. Dengan jaringan kader yang tersebar sampai tingkat bawah, PKK dinilai memiliki posisi strategis untuk membangun masyarakat yang toleran, cerdas dalam menggunakan media sosial, serta tangguh menghadapi berbagai ancaman yang dapat mengganggu persatuan bangsa.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa peran PKK tidak hanya berkutat pada pemberdayaan keluarga dan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga berkontribusi aktif dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui penguatan karakter, pendidikan kebangsaan, dan ketahanan keluarga sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.
Fer/Sol