PROBOLINGGO – SGB News
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Pemerintah Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, terus menunjukkan keseriusan dalam menyukseskan program ketahanan pangan berbasis ayam petelur. Program ini tidak hanya diarahkan untuk menjaga ketersediaan pangan desa, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi pemuda-pemudi desa, meskipun kapasitas pengelolaan masih terbatas.
Penjabat (PJ) Kepala Desa Kerpangan, Nanang Khosim, mengakui bahwa keterbatasan sarana dan kapasitas produksi membuat tidak semua pemuda dapat terlibat langsung sebagai pengelola utama. Namun demikian, Pemdes Kerpangan memastikan bahwa seluruh pemuda tetap diajak untuk belajar bersama dan memahami alur program ketahanan pangan tersebut.
“Memang tidak semua pemuda bisa langsung mengelola karena kapasitasnya masih minim. Tapi kami tidak ingin pemuda hanya jadi penonton. Semua tetap kami libatkan dalam proses belajar, diskusi, dan praktik lapangan,” ujar Nanang Khosim, Selasa (17/12/2025).
Menurutnya, ketahanan pangan tidak bisa dipahami hanya sebagai kegiatan beternak semata. Lebih dari itu, program ayam petelur ini dirancang sebagai media transfer pengetahuan, baik tentang teknis pemeliharaan ternak maupun manajemen usaha sederhana yang bisa menjadi bekal bagi generasi muda desa.
Nanang menegaskan, pemuda desa adalah aset jangka panjang. Karena itu, pendekatan yang digunakan Pemdes Kerpangan tidak instan dan tidak elitis. Semua pemuda diberi kesempatan untuk belajar, meskipun peran pengelolaan dilakukan secara bertahap dan terbatas.
Sekretaris Desa Kerpangan, Bahrul, menjelaskan bahwa keterlibatan pemuda dilakukan melalui pola pendampingan dan pembelajaran kolektif. Pemuda yang belum masuk dalam tim pengelola inti tetap diikutkan dalam pengenalan manajemen kandang, perawatan ayam, pencatatan produksi telur, hingga perhitungan biaya operasional dan hasil usaha.
“Kami ingin pemuda memahami bahwa beternak itu bukan hanya soal memberi pakan. Ada perhitungan, ada risiko, ada keuntungan. Ini pelajaran bisnis yang nyata dan aplikatif,” terang Bahrul.
Ia menambahkan, Pemdes Kerpangan juga mendorong pemuda untuk berdiskusi dan bertukar gagasan agar ke depan mereka mampu mengembangkan usaha serupa secara mandiri. Dengan demikian, program ketahanan pangan desa dapat melahirkan efek berganda bagi perekonomian masyarakat.
Sementara itu, Bendahara Desa Kerpangan, Purnomo, memastikan bahwa pengelolaan anggaran program ketahanan pangan ayam petelur dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab. Menurutnya, keterbatasan kapasitas justru menjadi alasan Pemdes untuk menjalankan program secara hati-hati dan terukur.
“Kami tidak ingin memaksakan skala besar tapi tidak berkelanjutan. Lebih baik kecil, tertata, dan jelas manfaatnya. Kalau hasilnya baik, tentu bisa dikembangkan dan melibatkan lebih banyak pemuda,” kata Purnomo.
Ia menegaskan bahwa setiap penggunaan anggaran diarahkan untuk mendukung keberlanjutan program, mulai dari pengadaan sarana, pakan, hingga perawatan ternak. Prinsip akuntabilitas menjadi pegangan agar program benar-benar memberi dampak langsung bagi masyarakat desa.
Melalui program ayam petelur ini, Pemdes Kerpangan berharap ketahanan pangan desa dapat terjaga sekaligus membuka peluang usaha baru. Pemuda-pemudi desa diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan teknis, tetapi juga keberanian untuk memulai usaha sendiri di masa depan.
Pemdes Kerpangan optimistis, meskipun kapasitas pengelolaan masih terbatas, pola belajar bersama yang diterapkan akan menciptakan sumber daya manusia desa yang lebih siap, mandiri, dan berdaya saing. Tidak semua pemuda memegang kandang hari ini, tetapi semua sedang dibekali ilmu. Dan dari situlah masa depan desa mulai dibangun.
Shinta Rahmawati