Sgb-News.id |Probolinggo – Kabar baik bagi masyarakat Kabupaten Probolinggo. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Probolinggo ke-280 dan HUT RSUD Tongas ke-24, digelar kegiatan bakti sosial berupa pemeriksaan mata, pemberian kacamata, hingga operasi katarak dan pemasangan bola mata palsu secara gratis.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Program ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk John Fawcett Foundation, Palang Merah Indonesia (PMI), serta sejumlah stakeholder lainnya. Kegiatan ini menjadi angin segar, terutama bagi masyarakat kurang mampu yang selama ini terkendala biaya untuk mendapatkan layanan kesehatan mata yang layak.
Pelaksanaan kegiatan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 9 hingga 11 April 2026, bertempat di RSUD Tongas, yang beralamat di Jalan Raya Tongas No. 229, Kabupaten Probolinggo.
Sementara itu, proses pendaftaran telah dibuka sejak 5 Maret hingga 5 April 2026. Masyarakat dapat mendaftar melalui seluruh puskesmas yang tersebar di Kabupaten Probolinggo, atau langsung ke Markas PMI Kabupaten Probolinggo di Jalan dr. Saleh No. 18, Sumberlele, Kraksaan.
Adapun persyaratan yang harus dipenuhi cukup sederhana, yakni membawa fotokopi KTP saat pendaftaran, menunjukkan KTP asli pada hari pelaksanaan, serta memiliki gangguan pada mata, khususnya katarak atau kondisi yang memerlukan pemasangan bola mata palsu.
Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi panitia melalui nomor WhatsApp yang telah disediakan, yakni Holik Arisandi di 0813-3622-3139 atau M. Bahroini di 0821-4310-4882.
Kegiatan ini bukan sekadar layanan kesehatan gratis, tetapi juga bentuk nyata kepedulian terhadap kualitas hidup masyarakat. Katarak, yang kerap menjadi penyebab utama kebutaan, sejatinya dapat ditangani melalui tindakan medis yang tepat. Namun, akses dan biaya sering menjadi penghalang utama.
Melalui program ini, harapan itu dibuka lebar. Mereka yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan penglihatan kini memiliki peluang untuk kembali melihat dunia dengan lebih jelas.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti pada seremoni. Harus ada keberlanjutan, agar masyarakat tidak hanya “dibantu sesaat”, tetapi benar-benar mendapatkan hak dasarnya secara utuh.
Bagi warga Probolinggo, ini bukan sekadar bakti sosial. Ini adalah kesempatan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang tak ternilai: penglihatan.
Ferdi