Probolinggo | SGB-News.id – Gelombang solidaritas terhadap dugaan kekerasan yang menewaskan seorang pelajar di Tual terus meluas. Aliansi BEM Probolinggo Raya mengumumkan akan menggelar aksi kemanusiaan pada Minggu, 1 Maret 2026, pukul 14.00 WIB di Alun-Alun Kraksaan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Seruan aksi tersebut tersebar melalui poster digital yang menampilkan kolase pemberitaan media nasional terkait insiden pemukulan seorang anak menggunakan helm hingga meninggal dunia. Dalam materi kampanye itu, tercantum tuntutan tegas agar aparat yang terlibat diproses hukum secara transparan dan akuntabel.
Aliansi mahasiswa menilai kasus tersebut bukan sekadar insiden individual, melainkan ujian serius terhadap komitmen penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia. Mereka menekankan bahwa korban adalah seorang anak kategori yang secara hukum mendapatkan perlindungan khusus berdasarkan peraturan perundang-undangan.
“Ini bukan semata soal institusi, ini soal kemanusiaan. Ketika seorang anak kehilangan nyawa akibat dugaan kekerasan aparat, maka yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik terhadap sistem hukum,” demikian pernyataan sikap yang beredar dalam materi aksi.
Dalam poster tersebut, narasi “Seruan Aksi Kemanusiaan” dan “Mereka Dibunuh Oknum Polisi” ditampilkan secara mencolok, disertai ajakan terbuka kepada masyarakat untuk hadir dan menyuarakan tuntutan keadilan. Aliansi BEM Probolinggo Raya juga menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengawasan internal di tubuh kepolisian.
Mahasiswa menegaskan bahwa aksi ini akan dilakukan secara damai dan konstitusional. Mereka menyebut kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum dijamin undang-undang, sepanjang dilakukan dengan tertib dan tidak melanggar hukum.
Sejumlah elemen masyarakat sipil dikabarkan akan turut bergabung dalam aksi tersebut. Koordinator lapangan menyatakan bahwa fokus utama adalah mendorong proses hukum yang objektif, transparan, dan tidak tebang pilih.
“Jika benar terjadi pelanggaran pidana, maka harus ada pertanggungjawaban hukum yang jelas. Jangan sampai publik melihat adanya impunitas,” tegasnya.
Kasus dugaan kekerasan ini sebelumnya menjadi sorotan nasional setelah sejumlah media memberitakan kronologi peristiwa yang berujung pada meninggalnya korban. Desakan agar dilakukan investigasi menyeluruh datang dari berbagai kalangan, termasuk aktivis hak asasi manusia.
Aksi di Kraksaan diproyeksikan menjadi salah satu bentuk solidaritas daerah terhadap isu nasional yang menyentuh aspek kemanusiaan dan supremasi hukum. Mahasiswa berharap langkah ini dapat menjadi tekanan moral agar proses hukum berjalan tanpa intervensi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari pihak terkait mengenai perkembangan penanganan perkara tersebut.
Aliansi BEM Probolinggo Raya memastikan bahwa aksi akan dikawal dengan koordinasi keamanan dan tetap menjunjung prinsip damai. Mereka menegaskan satu hal: ketika keadilan terasa jauh, suara publik tidak boleh diam.
Tim-Redaksi