Probolinggo, SGB-News.id,- Proyek rehabilitasi SDN Sumendi II di Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan di wilayah tersebut. Dengan nilai kontrak mencapai Rp 363.111.000, pembangunan ini diharapkan mampu menghadirkan fasilitas belajar yang lebih layak dan nyaman bagi para siswa.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Proyek yang dikerjakan oleh CV AR Rajak dengan pengawasan dari CV Fertikal ini mendapat perhatian masyarakat. Meski dalam pelaksanaan sempat menuai catatan, warga tetap menyimpan optimisme besar bahwa rehabilitasi ini akan membawa perubahan positif.
Sejumlah pekerja mengungkapkan bahwa mereka hanya menjalankan tugas sesuai arahan di lapangan. Namun, di balik itu, masyarakat berharap agar proses pembangunan dilakukan sebaik mungkin demi masa depan anak-anak.
“Kami ingin sekolah ini kokoh dan nyaman. Anak-anak harus belajar di tempat yang aman, karena mereka adalah generasi penerus,” ujar salah seorang warga sekitar penuh harap.
Harapan tersebut sejalan dengan semangat gotong royong yang tumbuh di tengah masyarakat. Mereka percaya, proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan juga pondasi bagi peningkatan kualitas pendidikan.
Kerusakan molen dan kendala teknis lain yang sempat terjadi dianggap sebagai tantangan yang harus diatasi dengan kerja keras dan profesionalitas. Justru dari situ, semua pihak diingatkan untuk lebih serius mengawal proyek pendidikan agar benar-benar memberi manfaat.
Dengan adanya rehabilitasi SDN Sumendi II, masyarakat optimistis anak-anak akan dapat belajar dengan lebih baik. Ruang kelas yang nyaman, aman, dan sesuai standar diharapkan akan menumbuhkan semangat belajar sekaligus memperkuat tekad bersama untuk memajukan pendidikan di Kecamatan Tongas.
“Sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak. Mari kita jaga bersama agar menjadi tempat terbaik untuk menimba ilmu,” tutur seorang tokoh masyarakat setempat.
Semangat masyarakat Tongas kini berpadu dengan harapan besar: menjadikan SDN Sumendi II sebagai simbol kebangkitan pendidikan di desa, sekaligus inspirasi bagi daerah lain untuk terus memperjuangkan kualitas belajar yang lebih baik.
Tim-Redaksi