Dok: Ai
SGB°LUMAJANG – Kenaikan harga kedelai dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan oleh para perajin tahu di Kabupaten Lumajang. Meningkatnya harga bahan baku utama tersebut membuat biaya produksi melonjak dan menekan keuntungan pelaku usaha mikro yang bergerak di sektor pangan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Sejumlah perajin tahu mengaku kesulitan mempertahankan usaha di tengah harga kedelai yang terus berfluktuasi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha apabila kenaikan harga berlangsung dalam waktu yang lama.
“Harga kedelai naik sekarang, Mas. Mau gulung tikar saya sepertinya,” keluh salah seorang pengusaha tahu asal Lumajang saat ditemui wartawan, Kamis (4/6/2026).
Keluhan tersebut menjadi gambaran nyata tantangan yang dihadapi pelaku usaha tahu yang selama ini bergantung pada pasokan kedelai sebagai bahan baku utama. Selain menghadapi kenaikan harga, mereka juga dituntut menjaga kualitas produk dan harga jual agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kabupaten Lumajang menyatakan terus melakukan langkah-langkah antisipatif untuk meminimalkan dampak fluktuasi harga terhadap pelaku usaha.
Kepala Diskopindag Lumajang, Ridho, mengatakan bahwa pemerintah daerah secara aktif melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok, termasuk kedelai, sebagai upaya preventif dalam mengantisipasi gejolak pasar.
“Kami terus memantau perkembangan harga dan stok bahan pokok serta bahan baku industri. Informasi ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai kewenangan yang dimiliki,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).
Menurut Ridho, tantangan yang dihadapi pelaku usaha tidak dapat diselesaikan hanya melalui pengendalian harga. Karena itu, Diskopindag juga berupaya memperkuat sisi hilir melalui perluasan akses pasar dan penguatan kemitraan usaha.
Dalam waktu dekat, Diskopindag akan memfasilitasi kegiatan temu mitra antara perajin tahu dengan berbagai calon pembeli potensial, seperti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hotel, restoran, rumah makan, hingga pelaku usaha lainnya yang membutuhkan pasokan produk tahu secara berkelanjutan.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan kepastian penyerapan produk para perajin tahu di Lumajang.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong penguatan rantai pasok melalui kemitraan antara pelaku usaha, Koperasi Merah Putih, dan kelompok tani. Upaya ini diarahkan untuk menciptakan hubungan usaha yang saling menguntungkan serta mendukung keberlanjutan pasokan bahan baku dengan harga yang lebih stabil.
Diskopindag juga terus mengembangkan program peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan efisiensi produksi, penguatan manajemen usaha, serta diversifikasi produk olahan berbasis kedelai. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing usaha sekaligus membantu pelaku usaha menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.
Di sisi lain, pemerintah daerah mulai mendorong pengembangan hilirisasi produk pertanian lokal sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku dari luar daerah maupun impor. Pengembangan produk olahan berbasis kedelai lokal dinilai memiliki potensi untuk memperkuat ketahanan industri pangan skala kecil dan menengah.
Ridho menegaskan bahwa perlindungan terhadap keberlangsungan usaha mikro tidak hanya dilakukan melalui pembinaan, tetapi juga dengan memperkuat akses pasar dan rantai pasok usaha.
“Kami tidak hanya menunggu aduan. Diskopindag secara aktif melakukan pemantauan harga, membangun kemitraan usaha, dan memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM. Perlindungan rantai pasok dan keberlanjutan usaha menjadi perhatian kami,” tandasnya.
Meski tantangan akibat fluktuasi harga kedelai masih dirasakan, para pelaku usaha berharap sinergi antara pemerintah, koperasi, petani, dan dunia usaha dapat terus diperkuat. Dengan dukungan akses pasar, kemitraan yang lebih luas, serta pemantauan harga yang berkelanjutan, para perajin tahu optimistis dapat mempertahankan usahanya dan tetap berkontribusi terhadap perekonomian daerah.