Dok: Peserta Didik Smpn 1 Sukodono Gerakan Sekolah Mengaji/Bahrusyofan/sgb-news.id
SGB°LUMAJANG – Suasana pagi di SMP Negeri 1 Sukodono, Lumajang, Jumat (12/6/2026), terasa berbeda dari biasanya. Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun syahdu, memecah keheningan dan menyusup ke relung hati siapa saja yang mendengarnya. Hari itu, bukan sekadar hari sekolah biasa, melainkan sebuah puncak perjuangan spiritual bagi puluhan generasi muda dalam agenda Haflah Akhirusannah ke-3 Khotmil Qur’an dan Tahfidzul Qur’an.
Sebanyak 65 peserta didik berdiri dengan anggun. Sebanyak 56 di antaranya merupakan wisudawan Tahfidz (penghafal Juz 1, 2, 28, 29, dan 30), sementara 9 lainnya adalah wisudawan Khotmil Qur’an dengan Metode Tilawati. Bagi mereka, hari ini adalah pembuktian atas komitmen, disiplin, dan cinta yang mendalam terhadap kitab suci.
BUKAN SEKADAR SEREMONIAL
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran guru, seluruh orang tua wali murid, serta para pembimbing dari Gerakan Sekolah Mengaji (GSM). Kehadiran orang tua membawa atmosfer haru yang pekat; beberapa dari mereka tak kuasa menahan air mata menyaksikan buah hatinya memakai mahkota kehormatan sebagai penjaga kalam Allah di sekolah umum.

Bahrusyofan Hasanudin/sgb-news.id
Bagi pihak sekolah, gelaran ini jauh dari kata formalitas tahunan. Ini adalah panggung penghargaan tertinggi bagi keringat dan konsistensi kedisiplinan para siswa yang setiap harinya membagi waktu antara pelajaran umum dan hafalan Al-Qur’an. Di balik keberhasilan mereka, ada peran besar para ustaz dan ustazah GSM yang dengan sabar membimbing langkah demi langkah, hari demi hari.
“Menghafal Al-Qur’an itu sulit, memelihara hafalan lebih sulit lagi.”
Kalimat sarat makna tersebut meluncur langsung dari Kepala SMPN 1 Sukodono, Edy Purwanto, saat memberikan apresiasi mendalam kepada anak-anak didiknya. Beliau tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas pencapaian luar biasa ini.
“Tujuan awal pelaksanaan GSM di SMPN 1 Sukodono sebenarnya sederhana, agar seluruh murid bisa membaca Al-Qur’an. Namun alhamdulillah, hari ini target itu melesat jauh. Sampai ada yang khotmil, bahkan ada yang hafal beberapa juz,” ungkap Edy dengan nada bergetar bangga.
Beliau menyadari betul bahwa apa yang dicapai para siswa hari ini membutuhkan perjuangan yang berdarah-darah (red melawan rasa malas).
“Pencapaian ini tidak mudah, mereka harus berjuang meraihnya,” imbuhnya mengingatkan semua yang hadir akan mahalnya nilai sebuah konsistensi.
Melalui program Gerakan Santri Mengajar (GSM), SMPN 1 Sukodono berhasil membuktikan bahwa sekolah negeri mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga matang secara spiritual.
Acara ditutup dengan doa bersama dan prosesi sungkeman massal, di mana para wisudawan memeluk orang tua mereka masing-masing. Sebuah pemandangan indah yang menjadi bukti bahwa di tengah modernisasi zaman, cahaya Al-Qur’an tetap menyala terang di hati anak-anak Sukodono. Perjalanan menghafal mungkin telah mencapai satu titik puncak hari ini, namun perjuangan sesungguhnya yaitu menjaga hafalan tersebut di dalam dada baru saja dimulai.