Probolinggo Kotaanyar | SGB-News.id — Program pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah yang digadang-gadang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda kembali menuai sorotan. Kali ini terjadi di MI Nurur Rahmah, Desa Sambirampak Lor, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo, setelah ditemukan perbedaan antara komposisi menu yang tercantum dalam lembar informasi dengan makanan yang diterima siswa di lapangan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Berdasarkan lembar Informasi Nilai Gizi yang beredar, menu untuk porsi kecil (diperuntukkan bagi PAUD, TK, dan SD kelas 1–3) seharusnya terdiri dari beberapa komponen, di antaranya pastel, telur rebus, dan buah. Sedangkan porsi besar (untuk SD kelas 4–6 hingga SMA serta ibu hamil dan menyusui) disebutkan memuat pastel, telur rebus, kacang atau kacang goreng, serta buah pisang cavendish.
Dalam lembar tersebut juga tertulis nilai komposisi gizi seperti energi, protein, lemak, dan karbohidrat yang menjadi dasar klaim pemenuhan kebutuhan gizi harian anak.
Namun fakta di lapangan justru menunjukkan menu yang diterima siswa jauh berbeda.
Sejumlah sumber di lingkungan sekolah menyebutkan bahwa anak-anak hanya menerima roti pisang, satu nugget, dan lima butir kurma. Tidak ditemukan telur rebus maupun buah pisang seperti yang tercantum dalam komposisi menu pada lembar informasi gizi tersebut.
Perbedaan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai transparansi dan konsistensi pelaksanaan program pemenuhan gizi bagi siswa.
“Kalau di kertas tertulis menunya lengkap, tapi yang diterima anak-anak berbeda, tentu ini patut dipertanyakan. Apakah memang terjadi perubahan menu, atau ada hal lain yang tidak dijelaskan?” ujar salah satu sumber yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa program yang seharusnya meningkatkan kualitas gizi anak justru berpotensi menjadi formalitas administratif.
Apalagi dalam beberapa kesempatan pemerintah pusat melalui Presiden sebelumnya kerap menekankan pentingnya asupan gizi yang cukup bagi anak-anak bangsa, termasuk melalui program makanan bergizi dan konsumsi susu bagi pelajar. Tujuannya jelas: menciptakan generasi yang sehat, kuat, dan memiliki daya saing di masa depan.
Namun ironisnya, semangat besar tersebut dinilai mulai bergeser ketika implementasi di lapangan tidak berjalan sesuai dengan konsep awal.
Jika menu yang disajikan tidak sesuai dengan komposisi yang tercantum, maka ada dua kemungkinan yang muncul: pertama, terjadi perubahan menu tanpa pemberitahuan; kedua, terdapat ketidaksesuaian dalam pengadaan atau distribusi makanan.
Kedua hal tersebut sama-sama membutuhkan penjelasan dari pihak terkait.
Lebih jauh, persoalan ini bukan sekadar soal makanan ringan atau menu tambahan di sekolah. Ini menyangkut integritas program gizi anak yang seharusnya menjadi prioritas nasional.
Program gizi sekolah dirancang dengan perhitungan nutrisi tertentu agar anak-anak mendapatkan keseimbangan energi, protein, vitamin, dan mineral yang cukup. Jika komponen tersebut berubah atau berkurang, maka tujuan program bisa melenceng dari target semula.
Berdasarkan fakta di lapangan, tim SGB-NEWS juga menemukan adanya lembar informasi nilai gizi yang berbeda di tangan penerima lainnya. Pada lembar tersebut tercantum tanggal 10 Maret 2026 dengan komposisi menu yang ditulis antara lain roti, ayam keju, saus tomat, kacang, serta buah kurma.
Perbedaan tulisan dan tanggal pada label ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, terutama terkait kesesuaian antara label yang ditempel pada paket dengan isi makanan yang diterima siswa. Sebab pada beberapa paket yang diterima siswa sebelumnya, isi makanan yang ditemukan di lapangan hanya berupa roti pisang, satu nugget, serta lima butir kurma.
Atas kondisi tersebut, SGB-NEWS berharap masyarakat tidak memberikan informasi yang tidak-tidak kepada awak media dan tetap menyampaikan fakta apa adanya. Di sisi lain, SGB-NEWS juga mengingatkan kepada petugas dapur agar lebih teliti dalam menempelkan label paket, sehingga tidak terjadi kesalahan informasi yang dapat menimbulkan kebingungan serta mengganggu kondusivitas di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Tim-Redaksi