SGB-News.id°PROBOLINGGO — Sorotan publik terhadap anggaran pakaian dinas Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo Tahun Anggaran 2026 terus bergulir. Di tengah kritik yang muncul, anggota Aliansi Madura Indonesia AMI, Dierel, menyampaikan pandangannya bahwa pejabat daerah memang harus berani menampilkan sosok pimpinan yang elegan dan berwibawa sebagai representasi daerah.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Namun, menurutnya, kewibawaan tidak boleh memutus kedekatan antara pemimpin dan masyarakat. Ia menegaskan seorang bupati harus tetap tampil sederhana, membumi dan hadir langsung di tengah rakyat.
“Pejabat daerah harus berani menampilkan pimpinan dengan penampilan yang elegan dan berwibawa. Karena kepala daerah membawa nama baik Kabupaten Probolinggo. Tapi pemimpin juga harus lebih banyak turun ke bawah dan dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Diketahui, Pemerintah Kabupaten Probolinggo mengalokasikan anggaran sebesar Rp235 juta dari APBD 2026 untuk pengadaan pakaian dinas dan atribut kepala daerah serta wakil kepala daerah selama satu tahun anggaran.
Berdasarkan data yang dihimpun, anggaran tersebut masuk dalam paket belanja alat dan bahan untuk kegiatan kantor pada sub kegiatan penyediaan pakaian dinas dan atribut kelengkapan kepala daerah dan wakil kepala daerah.
Kepala Bagian Umum Setda Kabupaten Probolinggo, Yuanita, sebelumnya menjelaskan bahwa anggaran tersebut mencakup berbagai jenis pakaian dinas beserta atributnya. Mulai dari seragam kerja harian Senin sampai Jumat, Pakaian Dinas Harian PDH, Pakaian Sipil Harian PSH, Pakaian Sipil Resmi PSR, Pakaian Dinas Lapangan PDL, Pakaian Dinas Upacara PDU hingga pakaian adat.
Meski demikian, rincian jumlah stelan, spesifikasi bahan kain maupun harga satuan pakaian dinas tersebut belum dijelaskan secara terbuka kepada publik.
Menurut Dierel, penampilan kepala daerah memang penting sebagai bagian dari citra pemerintahan. Pemimpin yang tampil rapi dan profesional dapat meningkatkan kepercayaan publik serta menunjukkan keseriusan dalam menjalankan tugas pemerintahan.
Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa masyarakat hari ini tidak hanya menilai dari penampilan luar semata. Rakyat juga ingin melihat pemimpinnya hadir dalam persoalan sosial, ekonomi dan pelayanan publik yang masih menjadi pekerjaan rumah di Kabupaten Probolinggo.
“Elegan itu penting, tapi jangan sampai kehilangan sensitivitas terhadap masyarakat kecil. Pemimpin harus tetap hadir mendengar keluhan rakyat dan bekerja nyata,” tegasnya.
Ia berharap kepemimpinan di Kabupaten Probolinggo ke depan semakin humanis, terbuka terhadap kritik dan mampu menjaga keseimbangan antara kewibawaan jabatan dengan kepentingan masyarakat luas.
“Wibawa pemimpin bukan hanya soal pakaian yang dipakai, tetapi bagaimana rakyat merasa diperhatikan dan dilayani dengan baik,” pungkasnya.
Tim-Redaksi