SGB-News.id°Kota Probolinggo – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di SMP Negeri 9 Kota Probolinggo bukan sekadar seremoni. Dari panggung itu, DPRD Kota Probolinggo justru mengirim sinyal keras. perundungan di sekolah bukan isu kecil, dan tidak boleh lagi dianggap angin lalu.
Ketua DPRD Kota Probolinggo, Hj. Dwi Laksmi Syntha Kusumawardhani, S.E., secara terbuka mengakui bahwa kasus perundungan kini sudah masuk ke Kota Probolinggo. Bukan lagi cerita kota lain.
“Kami menerima pengaduan. Ini bukan jauh di mata, tapi sudah terjadi pada anak-anak kita sendiri,” tegasnya.
Pernyataan itu tidak dibungkus basa-basi. DPRD menolak segala bentuk perundungan, termasuk cyber bullying yang semakin sulit diawasi di era digital. Lebih dari itu, Syntha menyoroti satu titik lemah yang selama ini sering dihindari: pengawasan sekolah.
“Kalau jujur, sistem pengawasan kita masih lemah. Mungkin tidak di SMPN 9, tapi secara umum ini harus diperbaiki,” ujarnya.
Namun DPRD tidak berhenti di kritik. Mereka menyiapkan langkah konkret. Syntha menegaskan akan mendorong lahirnya regulasi yang tidak sekadar normatif di atas kertas, tetapi benar-benar bisa diterapkan di sekolah.
“Kami akan dorong aturan yang bisa dijalankan. Tidak hanya formalitas. Kami koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan kepala sekolah,” katanya.
Tak hanya regulasi, DPRD juga berjanji mengawal anggaran agar program pencegahan perundungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan.
“Anggaran harus menyentuh pencegahan nyata, bukan sekadar acara,” tegasnya.
Sebagai solusi awal, DPRD mendorong pembentukan Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Tujuannya jelas: menciptakan ruang aman bagi siswa untuk berbicara dan melapor tanpa rasa takut.
“Tidak boleh ada pembiaran. Sekecil apa pun indikasi bullying, harus ditindaklanjuti,” katanya.
Di tengah kritik itu, DPRD tetap memberi apresiasi terhadap SMP Negeri 9 Kota Probolinggo yang dinilai berhasil memanfaatkan teknologi digital secara produktif. Salah satu yang disorot adalah karya literasi siswa yang mencapai ratusan hingga seribu buku.
“Anak-anak biasanya main game, tapi di sini bisa dijadikan buku. Ini luar biasa,” ujar Syntha.
Momentum Hardiknas ini juga dihadiri Wali Kota Probolinggo dr. H. Aminuddin, Sp.OG., Wakil Wali Kota Hj. Ina Dwi Lestari, S.A.P., M.M., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Siti Romlah, S.Si., M.Pd., serta Kepala Dinas Perhubungan Pudi Adji Tjahjo Wahono, S.Sos., M.Si.
Kepala Dinas Pendidikan, Siti Romlah, sebelumnya menegaskan arah pendidikan Kota Probolinggo menuju digitalisasi yang tetap berpijak pada nilai budaya dan penguatan karakter. Kegiatan ini sendiri diikuti oleh perwakilan kepala sekolah dari berbagai jenjang, mulai PKBM, PAUD, SD, hingga SMP, termasuk pengawas dan penilik sekolah se-Kota Probolinggo.
Namun di atas semua itu, pesan DPRD menjadi yang paling tajam: pendidikan tidak cukup hanya bicara kualitas, tapi juga keberanian melindungi siswa.
Kalau sekolah masih aman di spanduk tapi tidak di kenyataan, itu bukan pendidikan itu ilusi.
Ferdi