PROBOLINGGO – Sgb-news id – Jalur wisata menuju Gunung Bromo kembali menunjukkan wajah aslinya: berbahaya dan mematikan. Kecelakaan lalu lintas maut terjadi di Jalan Raya Sukapura, Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (10/1/2026) sekitar pukul 14.30 WIB. Satu orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka berat.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Insiden ini melibatkan mobil Suzuki Ertiga bernomor polisi N 1867 RZ yang dikemudikan CP (71), seorang pengusaha keramik asal Probolinggo, dengan sepeda motor Yamaha Vixion bernomor polisi AE 2010 MY. Sepeda motor tersebut dikendarai Agus Winarno (31), warga Ngawi, berboncengan dengan Samsul Hadi (37), warga Surabaya.
Berdasarkan keterangan saksi dan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), mobil Ertiga melaju dari arah Sukapura menuju Kota Probolinggo. Saat memasuki jalan menurun di kawasan Desa Boto, kendaraan diduga kehilangan kendali, keluar dari jalurnya, dan masuk ke jalur berlawanan. Pada saat bersamaan, sepeda motor korban melintas dari arah bawah. Jarak yang sudah terlalu dekat membuat tabrakan keras tidak terhindarkan.
Benturan hebat menyebabkan kedua pengendara sepeda motor terpental ke bahu jalan. Agus Winarno mengalami luka serius dan dinyatakan meninggal dunia setelah sempat dilarikan ke RS Tongas Probolinggo. Sementara Samsul Hadi mengalami patah tulang kaki dan masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas Sukapura.
Hasan (47), saksi mata di lokasi kejadian, menyebut mobil terlihat melaju tidak stabil sebelum tabrakan terjadi. Ia juga mengungkapkan bahwa kendaraan tidak langsung berhenti usai menghantam korban, sehingga memicu kepanikan dan kemarahan warga.
“Mobilnya sudah makan jalur orang. Setelah nabrak juga masih jalan. Warga takut sopirnya kabur,” ujar Hasan.
Mobil akhirnya berhenti setelah dikejar warga. Kepada warga, pengemudi mengaku dalam kondisi kurang sehat dan sebelumnya mengonsumsi obat dokter. Klaim tersebut kini menjadi bagian dari penyelidikan aparat kepolisian.
Unit Laka Lantas Polres Probolinggo telah mengamankan pengemudi dan kendaraan yang terlibat kecelakaan. Polisi masih mendalami penyebab pasti insiden, termasuk faktor kesehatan pengemudi, pengaruh obat-obatan, usia, hingga kondisi teknis kendaraan.
“Kami masih melakukan pendalaman. Semua kemungkinan kami periksa. Status hukum pengemudi akan ditentukan setelah penyidikan selesai,” ujar Kanit Gakkum Satlantas Polres Probolinggo, IPDA Aditya.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa Desa Boto merupakan titik rawan kecelakaan (black spot). Kontur jalan menurun dan tikungan tajam telah berulang kali memicu kecelakaan fatal. Ironisnya, meski korban terus berjatuhan termasuk kecelakaan bus pariwisata yang menewaskan delapan orang pada tahun sebelumnya langkah pencegahan konkret masih minim.
Kecelakaan ini menjadi catatan keras: tanpa evaluasi serius terhadap keselamatan jalan dan kelayakan pengemudi, jalur wisata Bromo bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga jalur maut yang terus menunggu korban berikutnya.
Tim-Redaksi