SGB-NEWS°PROBOLINGGO – Pemerintah Kota Probolinggo tidak sekadar memburu penghargaan. Di balik keikutsertaan dalam ajang Pencegahan Perkawinan Anak (PPA) Award Jawa Timur 2026, tersimpan misi besar menyelamatkan masa depan generasi muda dari risiko perkawinan usia dini.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Komitmen itu ditunjukkan saat Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, memimpin langsung presentasi kinerja Pemerintah Kota Probolinggo di hadapan tim penilai Provinsi Jawa Timur. Kota Probolinggo bahkan berhasil menembus jajaran 12 kabupaten/kota terbaik yang lolos seleksi administrasi pada ajang bergengsi tersebut.
Menurut Aminuddin, perlindungan anak bukan sekadar program pemerintah, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, berbagai upaya dilakukan secara terpadu mulai dari penurunan angka kemiskinan, pencegahan stunting, peningkatan akses pendidikan hingga penguatan perlindungan perempuan dan anak.
“Anak-anak harus diberi kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita. Pernikahan usia dini justru berpotensi menghambat masa depan mereka,” tegas Aminuddin dalam pemaparannya.
Kepala Dinsos PPPA Kota Probolinggo, Madihah, menjelaskan bahwa keberhasilan Kota Probolinggo lolos ke tahap presentasi tidak lepas dari berbagai inovasi dan kolaborasi lintas sektor yang selama ini dijalankan. Berbagai program yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, aparat hukum, hingga masyarakat dinilai mampu menekan angka perkawinan anak secara bertahap.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat Jawa Timur masih menghadapi tantangan besar terkait perkawinan usia dini. Pemerintah Provinsi Jawa Timur sendiri terus memperkuat sinergi lintas sektor untuk menekan angka perkawinan anak dan dispensasi kawin yang masih terjadi di sejumlah daerah.
Di Kota Probolinggo, strategi yang diterapkan tidak hanya berfokus pada sosialisasi. Pemerintah juga mengembangkan program berbasis data agar setiap intervensi tepat sasaran. Selain itu, inovasi Amin Sigap dan Jebol Sigap menjadi instrumen percepatan perlindungan perempuan dan anak yang selama ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah.
Pemkot juga menggencarkan edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja, program Kota Layak Anak, layanan isbat nikah terpadu, hingga pendampingan terhadap anak-anak yang berisiko putus sekolah. Pendekatan ini dilakukan untuk memutus akar persoalan yang sering menjadi penyebab terjadinya perkawinan dini.
Bagi Pemerintah Kota Probolinggo, keberhasilan sesungguhnya bukanlah membawa pulang trofi penghargaan, melainkan ketika semakin banyak anak yang mampu menyelesaikan pendidikan, memiliki kesempatan mengembangkan potensi diri, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman serta sehat.
Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, Pemkot Probolinggo optimistis target zero perkawinan dini bukan sekadar slogan, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan demi menyongsong generasi emas Indonesia di masa mendatang.
Shinta