Sgb.news.id – PROBOLINGGO,– Puluhan titik genangan air yang kembali muncul di berbagai wilayah Kota Probolinggo tidak hanya memicu keluhan warga, tetapi juga mendorong DPRD Kota Probolinggo turun langsung ke lapangan. Kondisi ini menjadi penegasan bahwa persoalan banjir genangan telah masuk fase darurat perencanaan, bukan lagi sekadar gangguan musiman.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Wakil Ketua II DPRD Kota Probolinggo, Santi Wilujeng, melakukan peninjauan ke sejumlah lokasi terdampak, termasuk kawasan permukiman dan bantaran sungai yang mengalami luapan serta kerusakan plengsengan. Dari hasil pantauannya, DPRD menilai sistem drainase kota dan fungsi sungai belum berjalan optimal dalam menghadapi intensitas hujan yang semakin tinggi.
“Genangan ini bukan berdiri sendiri. Ia berkaitan langsung dengan kondisi drainase, pendangkalan sungai, serta lemahnya pengendalian lingkungan. Ini pekerjaan rumah besar pemerintah kota,” tegas Santi di sela peninjauan.
Data BPBD menunjukkan lebih dari 20 titik di beberapa kecamatan sempat tergenang, dengan ketinggian air bervariasi dan mengganggu aktivitas warga. Sejumlah lokasi bahkan dilaporkan mengalami kerusakan struktur sungai akibat derasnya arus.
DPRD Kota Probolinggo, kata Santi, tidak ingin penanganan berhenti pada pompanisasi atau kerja bakti sesaat. Lembaga legislatif akan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap desain drainase, program normalisasi sungai, serta penguatan anggaran infrastruktur pengendali banjir.
Ia juga menekankan bahwa peran DPRD bukan hanya mengawasi, tetapi memastikan setiap rupiah belanja infrastruktur benar-benar menjawab persoalan di lapangan. “Kota ini tidak kekurangan proyek, yang kurang adalah proyek yang tepat sasaran,” ujarnya.
Di sisi lain, DPRD juga mengajak masyarakat terlibat aktif menjaga lingkungan, khususnya tidak menjadikan sungai dan saluran air sebagai tempat pembuangan sampah. Menurutnya, infrastruktur sekuat apa pun akan kalah jika kesadaran publik diabaikan.
Turunnya DPRD ke lokasi genangan diharapkan menjadi titik balik: dari pola reaktif setiap musim hujan, menuju kebijakan infrastruktur yang terencana, berani, dan berorientasi jangka panjang demi keselamatan serta kenyamanan warga Kota Probolinggo.
Diki maulana m